Sejak awal berdiri, Jun menerangkan pihaknya lebih memilih untuk menghabiskan uang di bahan baku dan riset karena volume yang sangat besar sehingga bisa menekan biaya menjadi lebih kecil. Disamping ia juga mengambil margin tipis untuk produk yang dibuatnya.
"Dengan meningkatnya volume dan kinerja, kami bisa menetapkan harga yang kompetitif," kata Lei Jun disela presentasi di Hotel Ritz Carlton Kuningan, Jakarta, Rabu (27/9).
Di sisi lain, ia mengaku pihaknya juga berupaya memangkas profit untuk dialokasikan sebagai biaya produksi dan riset.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan menerapkan strategi tersebut, Jun mengklaim Xiaomi secara konsisten membuat produk berkualitas dengan desain dan harga yang kompetitif.
Lebih jauh, ia juga menekankan bahwa inovasi menjadi ruh perusahaan. Jun menekankan Xiaomi sejatinya bukan sekedar perusahaan ponsel pintar saja.
Jun menyebut Xiaomi sebagai sebuah perusahaan yang berdiri di atas segitiga emas. Peranti keras (ponsel, router, dan lainnya) menjadi model bisnis paling atas, ditopang dengan lini bisnis internet dan ritel.
"Saat ini kami mulai membuka toko tapi dengan prinsip barang yang dipasarkan harus sama dengan harga jual di e-commerce. Dengan begitu satu bisnis menopang lini lainnya," pungkasnya.