Umumnya, tanda centang biru kerap ditemukan di akun-akun publik figur mulai dari presiden, pejabat publik, selebriti, jurnalis, mereka yang dianggap punya pengaruh luas di publik.
Sementara waktu Twitter menghentikan pemberian centang biru kepada mereka yang menginginkannya. Hal ini dipicu oleh insiden unjuk rasa supremasi kulit putih di Charlotesville, Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sadar bahwa kami menciptakan kerancuan ini dan harus memperbaikinya," kata divisi support Twitter dalam sebuah cuitannya.
Hal senada keluar dari mulut sang CEO Jack Dorsey yang mengungkapkan sistem verifikasi punya celah dan mengakui ia gagal menyikapi isu ini lebih baik.
Twitter dianggap bermain tak konsisten dalam menerapkan kebijakan centang biru ini. Pada kasus Donald Trump misalnya. Presiden AS itu berkali-kali membuat tweet berisi ancaman, perundungan, hingga hinaan yang berlawanan dengan nilai yang Twitter usung.
Masalahnya, figur seperti Trump adalah magnet bagi dunia Twitter yang penghuninya tak seramai di media sosial kompetitor. Melarang figur seperti Trump dari layanan mereka berarti menutup tirai salah satu panggung paling ramai di Twitter, atau dengan kata lain menghambat bisnis mereka.
Akibatnya, Twitter menuai banyak desakan publik agar berbenah. Desakan itu juga datang dari karyawan mereka sendiri. "Kami seharusnya menghentikan proses yang sedang berlangsung di awal tahun ini, kami sadar ini kacau ketika orang bingung apakah ini verifikasi ID atau bentuk dukungan," pungkas Ed Ho, manajer produk Twitter. (evn)