Pengguna Aplikasi Kencan Lebih Rentan Kena Serangan Siber

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Selasa, 14/11/2017 11:47 WIB
Pengguna Aplikasi Kencan Lebih Rentan Kena Serangan Siber Ilustrasi pengguna aplikasi kencan online. (dok. Thinkstock/Andrey Popov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kewaspadaan data pribadi yang bocor belakangan jadi topik yang diminati oleh masyarakat berkat munculnya kebijakan registrasi kartu SIM prabayar. Tak sedikit yang takut data berupa Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan nomor Kartu Keluarga disalahgunakan.

Namun ada satu tempat yang sejatinya berpotensi lebih banyak menguak data pribadi seseorang ketimbang kebijakan seperti kartu SIM prabayar yakni aplikasi kencan online.

Sayangnya, hanya sedikit yang menyadari bahwa aplikasi kencan memungut data seseorang yang sifatnya sangat pribadi. Terlebih data itu diberikan secara sukarela.


Masalah kebocoran data di aplikasi kencan ini terjadi ketika penggunanya sudah merasa nyaman dengan 'pasangan' yang mereka temukan. Penelitian dari Kaspersky menunjukkan 16 persen pengguna aplikasi kencan memberikan informasi pribadi ke lawan pasangan ngobrolnya.

Sementara ada 15 persen dari pengguna aplikasi tak segan bercerita hal-hal memalukan tentang dirinya dan 14 persen lainnya membagi foto-foto pribadi kepada pasangannya.

Gaya berbagi informasi yang tergolong berlebihan ini dinilai menempatkan pengguna dalam situasi yang berisiko. Sebab tak ada yang menjamin lawan bicara yang mengetahui data-data yang mereka bagi tak akan menyalahgunakannya.

Bahkan dari 6.458 responden penelitian di seluruh dunia, ada 25 persen di antaranya yang tak keberatan berbagi nama lengkap pribadinya, 10 persen mengumbar alamat rumah hingga foto bugil.

Perilaku seperti ini menimbulkan risiko baik di online maupun offline. Riset Kaspersky ini menemukan setidaknya 55 persen pengguna aplikasi kencan pernah mengalami masalah mulai dari keamanan TI hingga rupa teman kencan yang beda jauh dibanding di aplikasi. Namun ternyata dibandingkan perempuan, pria lebih rentan menjadi korban serangan siber di aplikasi kencan.

Kaspersky mencatat pria dua kali lebih rentan diserang malware, spyware, atau ransomware di aplikasi kencan ketimbang perempuan. Bahkan 13 persen responden pria dalam studi tersebut mengaku pernah menerima email phising dari aplikasi kencan, jumlahnya jauh lebih banyak dari perempuan yang mengalami hal serupa sebesar 7 persen dari total responden.

Kemudian ada pula kecenderungan mereka yang mengaku sebagai pengusaha lebih rentan terhadap serang siber di aplikasi kencan. Sekitar 19 persen mereka yang mengaku berprofesi pengusaha lebih sering dihinggapi malware atau ransomware.

"Pengguna perlu berhati-hati dalam membagikan hal-hal yang menyangkut diri mereka di profil publik atau pada pasangan yang potensial-atau bahkan hal yang lebih jauh lagi," kata Andrei Mochola, Head of Consumer Business di Kaspersky Lab dalam keterangan resmi.

Ia menyarankan pengguna aplikasi kencana bersikap sewajarnya ketika berinteraksi dengan orang asing. Sewajarnya dalam arti sama seperti bertemu orang asing di dunia nyata, berpikir dua kali memberikan informasi pribadi seperti nomor telepon atau alamat rumah kepada lawan bicara yang baru ditemui.

"Saran ini tidak hanya berlaku untuk situs kencan online saja, namun pengguna internet harus melindungi diri dan informasi pribadi mereka secara online di mana pun mereka berada," imbuh Mochola.

Salah satu cara mengakali lawan bicara di aplikasi kencana adalah dengan berbohong. Mereka yang ingin percakapan lancar tanpa harus membuka jati dirinya memilih memalsukan data pribadinya di aplikasi kencan. Hal ini sejalan dengan temuan Kaspersky yakni 57 persen responden pengguna aplikasi kencan memilih berbohong. (evn/evn)