Dalam profilnya, JAK-mikro menyebut dirinya sebagai startup fintech yang beroperasi di bawah nama PT. Mikrobisnis Digital Sejahtera dan Yayasan Bina Mikro Mandiri. Pendirinya, Debbie Sianturi dan Rahmad Widjaja Sakti terdaftar juga sebagai pengurus Kamar Dagang Indonesia (KADIN).
JAK-mikro mengincar usaha kecil menengah (UKM) di pasar tradisional karena di sana banyak yang belum tersentuh ekosistem pembayaran digital. Tanpa terlibat di ekosistem digital, mereka yakin UKM akan kesulitan bersaing di masa depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Debbie Sianturi berkata untuk sementara ini mereka masih menggencarkan edukasi kepada pedagang di pasar. Ia berkeyakinan jika adopsi digital sudah maksimal UKM akan berkembang lebih cepat.
Langkah konkret pertama yang mereka tempuh yakni mengajak pedagang memakai uang elektornik dalam setiap transaksinya. JAK-mikro memilih TCash sebagai uang elektronik untuk dipakai para pedagang.
"Untuk sementara TCash dulu, kalau sudah bagus kita teruskan," imbuhnya.
Mekanisme yang terjadi dalam upaya digitalisasi ini adalah uang elektronik yang diterima pedagang melalui TCash langsung ditransfer secara otomatis ke rekening mereka. Uang tersebut kemudian bisa diambil pedagang dalam waktu 24 jam setelah transaksi terjadi.
Lihat juga:Pintar Kelola Uang di Dompet Elektronik |
Tantangan bagi Debbie dan Rahmad dalam usaha mereka adalah banyaknya UKM atau pedagang yang belum memiliki rekening bank. Meski tak tahu jumlah pastinya, Rahmad meyakini masih banyak pedagang di Pasar Mayestik yang belum punya rekening.
Padahal dalam kurun 2018 nanti, JAK-mikro sudah menargetkan 110.000 pedagang dan UKM di 150 pasar tradisional Jakarta menggunakan transaksi digital. Setelah UKM dan pedagang di pasar tradisional, mereka akan lanjut mengajak toko kelontong dan kaki lima memakai transaksi non-tunai.
"Mereka butuh bank dan kita perlu ajak bank ke sini," ucap Rahmad. JAK-mikro rencananya akan mengutamakan bank daerah yakni Bank DKI untuk menawarkan rekening kepada UKM dan pedagang. (evn)