Edukasi Keuangan

Pintar Kelola Uang di Dompet Elektronik

Yuli Yanna Fauzie , CNN Indonesia | Jumat, 24/11/2017 18:35 WIB
Pintar Kelola Uang di Dompet Elektronik Banyaknya tawaran uang elektronik jangan sampai membuat banyak dana mengendap tak terpakai. Selain mubazir, uang elektronik yang hilang tak bisa kembali. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat agaknya sudah tak asing lagi dengan penggunaan uang elektronik. Maraknya belanja online ikut mendorong pertumbuhan gerakan nontunai. Di Jakarta dan sekitarnya, sejumlah tempat bahkan menggalakkan gerakan nontunai, seperti pembayaran parkir, busway di Transjakarta, KRL Commuterline, serta jalan tol.

Khusus jalan tol, Bank Indonesia (BI) malah telah mewajibkan pembayaran nontunai pada 30 Oktober 2017 lalu. Itu artinya, tidak ada lagi transaksi tunai di gerbang tol. Alasannya, demi mengurai kemacetan yang salah satunya disebabkan antrian panjang di gerbang tol.

Seiring perkembangannya, uang elektronik ini tak hanya terbatas pada kartu fisik saja. Pada kenyataannya, banyak juga uang elektronik yang melayang-layang pada aplikasi, seperti Go-Pay dari Go-Jek Indonesia, BukaDompet dari Bukalapak, T-Cash Telkomsel, hingga Jenius dari PT Bank Tabungan Pensiunan Negara Tbk (BTPN).

Pintar Kelola Uang di Dompet ElektronikDi Jakarta dan sekitarnya, sejumlah tempat bahkan menggalakkan gerakan nontunai, seperti pembayaran parkir, busway di Transjakarta, KRL Commuterline, serta jalan tol. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).

Digital Banking Value Proposition and Product Head BTPN Irwan Sutjipto Tisnabudi mengungkapkan, Jenius dilahirkan dengan dua konsep, uang elektronik fisik serta aplikasi melalui ponsel pintar.

Hal ini dilakukan agar masyarakat tetap dapat menggunakan kartu pembayaran, namun tetap bisa memaksimalkan penggunaannya melalui layanan berbasis aplikasi untuk berbagai transaksi. Sehingga, uang elektronik Jenius juga bisa digunakan untuk layanan transfer dan menabung.

Selain untuk memudahkan masyarakat, menurutnya, memang pola transaksi keuangan masyarakat telah berubah seiring dengan meningkatnya digitalisasi dan pemanfaatan teknologi.

“Kami ingin Jenius terus berevolusi untuk menyesuaikan dengan gaya hidup para digital savvy yang begitu dinamis. Maka, semangat kokreasi terus kami lakukan supaya Jenius bisa tetap relevan,” ujarnya belum lama ini.

Namun, dengan banyaknya pilihan uang elektronik ini, tentu Anda harus bijak memilih yang sesuai kebutuhan dan intensitas penggunaan uang. Jangan sampai, dana mengendap malah tak terpakai di banyak dompet elektronik.

Pengelola keuangan Budi Raharja mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih dan menggunakan uang elektronik. Pertama, memilih uang elektronik yang sesuai dengan penyedia layanan keuangan Anda sehari-hari.

Misalnya, bila telah menjadi nasabah perbankan tertentu, lebih baik memilih uang elektronik yang disediakan bank tersebut. Sebab, selain lebih sudah dikenal, nasabah juga akan lebih dimudahkan saat ingin melakukan pengisian saldo. “Jadi tidak perlu uang elektronik dari semua bank dimiliki,” ucapnya kepada CNNIndonesia.com.

Kedua, memilih berdasarkan skala kebutuhan. Menurutnya, bila sehari-hari pengguna uang elektronik menggunakan transportasi publik tentu harus memilih uang elektronik yang bisa digunakan untuk fitur ini.

Ketiga, berdasarkan penawaran khusus yang diberikan. Menurut Budi, masyarakat harus cermat pula memilih uang elektronik atas perhitungan ini, seperti merchant apa saja yang sudah bekerja sama untuk jangka waktu lama hingga berapa besar potongan harga yang diberikan.

Misalnya, dengan menggunakan uang elektronik A, pengguna bisa mendapatkan diskon tetap sebesar 10-15 persen dari restoran tertentu setiap bertransaksi di sana.

“Ini membuat pengguna uang elektronik punya pengelolaan keuangan secara keseluruhan karena bisa berhemat dimulai dari hal-hal kecil ini,” katanya.

Setelah memilih uang elektronik mana saja yang mau digunakan, pengguna harus pula pintar menggunakannya. “Tetap harus ada skala prioritasnya. Jangan lupa dipantau penggunaannya secara mingguan dan bulanan. Kemudian, disesuaikan dengan budget setiap bulan,” tutur dia.

Intinya, jangan sampai keasyikan memanfaatkan promo dari uang elektronik justru membuat Anda boros dalam membelanjakan uang.

Terakhir, untuk mengisi saldo uang elektronik, Budi menyarankan, lebih baik disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga jangan terlalu berlebihan.

“Karena, uang elektronik kalau hilang tidak bisa diganti saldonya. Jadi, lebih baik saldonya seperlunya saja, misal sebulan hanya butuh Rp200 ribu,” pungkasnya.

Merchant Uang Elektronik Makin Ramai

Direktur Program Elektronifikasi Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Pungky Purnomo Wibowo menuturkan, uang elektronik membuat pengguna aman karena tidak perlu membawa banyak uang tunai.

“Meningkatkan akses masyarakat ke sistem pembayaran. Mencegah, mengidentifikasi transaksi mencurigakan, hingga pengelolaannya yang lebih praktis karena semua tercatat,” jelasnya.

Selain itu, menurut Pungky, penggunaan uang elektronik kian mengguntungkan karena ke depannya secara bertahap seluruh sistem pembayaran memang diarahkan ke nontunai, sehingga akan lebih banyak merchant yang menerima pembayaran dengan uang elektronik.

Saat ini, merchant yang menerima uang elektronik memang telah cukup banyak. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatat, setidaknya ada lima ribu merchant yang telah menjalin kerja sama untuk sistem pembayaran uang elektronik besutannya.

Senior Vice President Retail and Transaction Banking Mandiri Thomas Wahyudi bilang, dari total 5.000 merchant itu, penggunaannya telah mencapai 423 juta transaksi sejak perbankan pelat merah itu menerbitkan e-money pada 2008 silam hingga Oktober lalu.

Namun, transaksi terbesar masih berasal dari beberapa pembayaran. “Untuk frekuensi transaksi jalan tol, Transjakarta, dan pembelian di Indomaret masih yang paling banyak. Kalau digabungkan, ketiganya 80-85 persen,” kata Thomas kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/11).

Dari seluruh transaksi itu, setidaknya Bank Mandiri telah menerbitkan 12,4 juta keping kartu uang elektronik sejak diterbitkan, dengan pertumbuhan sekitar 47 persen pada tahun ini dibandingkan tahun lalu.

Ke depan, perseroan berkomitmen terus menambah penjualan kartu uang elektronik dan kerja sama merchant. Sebab, Bank Mandiri melihat pangsa pasar e-money masih sangat besar sejalan dengan gencarnya gerakan nontunai oleh pemerintah dan BI. (bir)