RegoPantes, Layanan Jual Beli Buah Segar Langsung dari Petani

Eka Santhika , CNN Indonesia | Minggu, 14/01/2018 16:20 WIB
RegoPantes, Layanan Jual Beli Buah Segar Langsung dari Petani Ilustrasi. Rego Pantes memberi akses agar pembeli bisa langsung membeli ke petani (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)
Jakarta, CNN Indonesia -- RegoPantes, layanan jual beli produk segar langsung dari petani untuk pembelinya. Adalah Wim Prihanto yang menjadi inisiator layanan ini.

Ide awal Wim untuk mendirikan RegoPantes bermula ketika ia menjadi dosen mata kuliah technopreneurship di Universitas Multimedia Nusantara pada 2009.

Mata kuliah itu fokus untuk menemukan masalah yang dialami konsumen dan mencari solusinya melalui teknologi. Ia pun ingin mewujudkan ilmu yang ia ajarkan itu kepada mahasiswanya menjadi aksi nyata.

Memiliki latar belakang jurusan pertanian, Wim banyak berinteraksi dengan teman-teman sejurusan dan menemukan masalah yang dialami petani. Salah satunya adalah harga jual hasil tani yang terlalu rendah ke tengkulak sehingga merugikan petani.

Sehingga, dibuatlah aplikasi RegoPantes agar petani mendapat harga yang lebih pantas. Win mengaku petani mendapat harga tiga hingga empat kali lebih tinggi ketimbang menjual produk mereka ke tengkulak.

Sementara untuk konsumen, Wim menjanjikan harga yang lebih murah dari swalayan dan beberapa pasar tradisional yang sudah mereka survei. Namun ketika dibandingkan, harga yang tertera di situs tak beda jauh dengan yang ada di pasar.

Misal, untuk komoditas sawo kualitas biasa di situs dijual Rp16.750. Sementara di salah satu pasar di Jakarta Selatan dijual Rp15ribu. Bagi mereka yang ingin tak repot ke pasar, mungkin berbelanja lewat situs bisa jadi solusi. Tapi harus sabar menanti, karena pengiriman dilakukan setidaknya dua minggu kemudian.

RegoPantes telah hadir dalam bentuk aplikasi dan situs. Namun, saat ini aplikasi hanya ditujukan untuk petani. Sementara situs ditujukan untuk pembeli.

Sasar konsumen perkotaan

RegoPantesSitus RegoPantes untuk berbelanja langsung dari petani (Screenshot via www.regopantes.com)
Menurut Wim, konsumen yang ingin disasar dengan layanan RegoPantes adalah mereka yang ada di wilayah Jabodetabek.

"(Terutama) ibu muda yang peduli dengan masalah sosial, seperti nasib petani," tuturnya melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu (3/1).

RegoPantes memiliki empat tingkatan kualitas; biasa, kualitas khusus/spesial, kualitas organik dan kualitas fair trade.

"Umumnya, konsumen hanya mengenal dua kualitas, yaitu organik dan non-organik," jelas Win.

Produk dengan kualitas biasa adalah produk yang ditanam petani apa adanya. Ketika dijual lewat RegoPantes, syaratnya hanya tidak boleh rusak, busuk, dan cacat.

Kualitas khusus atau spesial disematkan pada produk yang ditanam dengan metode organik, namun petani belum memiliki sertifikasi.

Kualitas organik hanya bisa diklaim oleh petani yang sudah memiliki sertifikasi pertanian organik. Sementara, kualitas fair trade adalah kualitas yang lebih tinggi dari kualitas organik.

"Di Indonesia, sedikit sekali petani yang mendapatkan sertifikasi ini (fair trade)," lanjut Win.

Jumlah pengunjung situs RegoPantes sendiri baru mencapai 8004 kunjungan sejak situs meluncur pada Oktober 2017. Sementara jumlah transaksi mencapai 5715 kilogram produk terjual.

Kepada pembeli, jangan harap waktu pengantaran yang instan ketika membeli dari aplikasi ini. Sebab, barang baru bisa diantar dua minggu setelah pemesanan. Wim beralasan karena komoditas yang dijual di situs RegoPantes ditawarkan dua minggu sebelum waktu panen.

RegoPantesRego Pantes mengklaim punya empat tingkat kualitas produk tani. Mulai dari tingkat biasa hingga kelas fair trade, kualitas diatas kelas organik (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Saat hari panen tiba, sejak pagi para petani datang ke titik kumpul untuk membawa hasil panennya. Pengumpulan hasil tani biasanya dilakukan di kantor kelompok tani atau balai desa.

Setelah pengecekan dan ditimbang, sore hari hasil tani lantas siap dibungkus dan dibawa oleh transporter ke daerah Jabodetabek. RegoPantes mengaku menggunakan transporter independen untuk mendistribusi produk.

Produk sampai di gudang kantor pada dini hari. Sejak pagi, hasil tani ditaruh di gudang kantor dan siap diantar.
Pengantaran ke konsumen menggunakan layanan GrabParcel.

Namun, Wim mengaku masih kesulitan melakukan sosialisasi layanan ini ke konsumen. Sebab, menurutnya sulit mengubah stigma konsumen yang masih ingin mencari barang yang lebih murah.

Rangkul ribuan petani

Hingga saat ini, RegoPantes mengklaim telah merangkul 2.847 petani. Petani itu tersebar di beberapa kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Magelang, Brebes, Wonogiri dan Batang.

Data petani ini didapat dari bantuan pemerintah provinsi Jawa Tengah. Pemerintah Jateng memberikan subsidi pupuk kepada petani dalam bentuk Kartu Tani.

RegoPantesHarga jual yang ditetapkan oleh RegoPantes menggunakan harga adil baik untuk petani juga pembeli (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Sayang dengan kartu tani ini, petani tidak bisa mengecek saldo kartu setiap saat. Petani harus datang ke toko pupuk terlebih dulu untuk mengetahui sisa saldo mereka.

Untuk mempermudah pengecekan saldo, 8villages yang menjadi induk dari RegoPantes, lantas membuatkan aplikasi Petani.

Dua layanan ini lantas dikolaborasikan, RegoPantes untuk berjualan hasil tani sementara Petani untuk aplikasi data kartu petani, penyuluhan pertanian, dan media sosial antar petani. Akun Petani pun bisa digunakan untuk login di aplikasi RegoPantes.

Untuk mengendalikan kualitas produk, awalnya petugas RegoPantes datang tiap dua minggu sekali untuk mengecek kualitas hasil tani.

Demi efisiensi, pengecekan lantas dilakukan oleh perwakilan dari kalangan petani. Sementara petani dibekali penyuluhan mengenai kualitas produk yang diinginkan konsumen.

Kesulitan untuk mensosialisasikan layanan ini ke kalangan petani karena mereka enggan untuk menggunakan ponsel pintar.

"Mereka merasa ponsel yang mereka miliki sekarang sudah cukup dan ponsel yang baru terlalu canggih," jelas Wim.
Selain itu, minimnya sinyal dan paket data di lokasi juga menghambat mereka untuk berkomunikasi dan bermitra dengan petani.

Perhitungan harga 

RegoPantes mengklaim memberikan harga yang pantas. Lantas seperti apa penentuan harga yang pantas itu? Wim memberi contoh.

Misal, petani menjual komoditas ke tengkulak dengan harga Rp4 ribu. Tapi di pasar, konsumen membeli komoditas dengan harga Rp40 ribu.

RegoPantes berusaha mencari harga yang adil untuk petani dengan logika, harga dibeli dari petani dan harga jual dibagi dua. Sebagai ilustrasi, harga yang pantas untuk petani menjadi Rp44 ribu : 2 = Rp22 ribu.

Biaya Rp22 ribu ditambah dengan biaya administrasi, biaya pembungkusan komoditas dan lainnya. Ia lantas memisalkan bahwa biaya tambahan keseluruhan Rp9 ribu.

Maka biaya tambahan ini dibagi dua. Setengah ditanggung oleh petani dan setengah ditanggung oleh pembeli. Sehingga harga yang diterima petani untuk komoditasnya menjadi Rp22 ribu - Rp4.500 = Rp17.500. Sementara konsumen harus membayar; Rp22 ribu + Rp4.500 = Rp26.500.

Harga tengah itu dianggap menjadi harga yang adil bagi kedua pihak. (sat)


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA