Laptop yang dimaksud ini adalah yang dikirim pada periode bulan Desember 2015 hingga Desember 2017. Kondisi baterai yang tertanam pada laptop menyebabkan konsumen membutuhkan tenaga ahli untuk bisa mengganti komponen yang bermasalah.
"Untuk 0,1 persen sistem HP yang terjual dalam skala global selama dua tahun terakhir, langkah ini harus kami ambil," ungkap juru bicara HP, seperti dikutip CNet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perusahaan akan mengatur pertemuan agar baterai yang bermasalah benar-benar dapat diganti. Pergantian komponen pun tidak dipungut biaya.
Dari sejumlah kasus tersebut, satu korban menderita luka bakar tingkat pertama dan tiga lainnya menderita kerugian sebesar US$4500 atau sebesar Rp60,3 juta.
Mengutip The Verge, langkah penarikan laptop dengan kondisi baterai yang bermasalah ini telah dilakukan HP sejak Juni tahun 2016 lalu.
Sebanyak 41 ribu baterai laptop ditarik oleh perusahaan, diikuti langkah serupa pada Januari 2017 lalu yang menyebabkan 101 ribu baterai jenis lithium-ion harus ditarik kembali oleh perusahaan. (sat)