Riset yang digagas oleh Telstra, perusahaan induk dari TelkomTelstra, menunjukkan Jakarta sebagai salah satu dari 45 kota yang punya daya dukung yang tinggi terhadap adaptasi digital. Economis Intelligence Unit (EIU) sebagai pelaksana riset menyimpulkan Jakarta menempati peringkat ke-8 dalam persoalan ini.
Kendati demikian, pencapaian Jakarta ini bukan tanpa masalah. Hasil riset menunjukkan ibukota masih kesulitan memenuhi permintaan SDM di bidang teknologi. Sekitar 36 persen petinggi perusahaan di Jakarta menganggap ketersediaan SDM sebagai kendala terbesar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
EIU melakukan riset kepada a2.620 eksekutif dari 45 kota di dunia, kebanyakan di antaranya adalah kota-kota di Asia Pasifik. Dari jumlah itu, hanya ada sekitar 70 eksekutif Jakarta yang berpartisipasi di riset tersebut.
Keterbatasan SDM ini jadi masalah karena peralihan bisnis ke bentuk digital semakin cepat, namun persediaan SDM yang ahli di bidangnya bisa dibilang sangat terbatas.
"Kami perlu terobosan, Kementerian Ketenagakerjaan misalnya akan membuat bagaimana tenaga kerja asing yang skill, bukan non-skill, yang benar-benar skill bisa dibutuhkan di Indonesia," kata Rudi.
Pada kesempatan yang sama itu pula, Menteri Koordinator Perekenomian Darmin Nasution berkata pemerintah bakal menyiapkan strategi khusus untuk masalah SDM ini.
“Memang kami dengar juga dari industri, dari e-commerce mengenai persoalan talenta, persoalan SDM. Ya memang, sebenarnya bukan cuma Indonesia, tapi juga negara lain. Memang saat ini Indonesia kekurangan karena tidak dipersiapkan sejak lama,” imbuh Darmin. (evn)