Dua orang yang ditangkap itu adalah Alex Alberto Fajin-Diaz, 31, dari Spanyol, dan Argenys Rodriguez, 21, dari Springfield, Massachusetts. Keduanya menyamar sebagai teknisi perbaikan ATM sebelum menjebol ATM Bank Citizen di Connecticut, Amerika Serikat.
Aksi ini dikenal dengan jackpotting. Dinamakan demikian karena begitu terinfeksi, mesin ATM akan mengeluarkan uang seperti mendapat jackpot dari mesin kasino.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja varian D ini adalah hasil evolusi dari malware yang sudah dikembangkan sejak 2013 itu. Varian D sengaja dikembangkan untuk menyasar ATM buatan Diebold Nixdorf. Salah satu merek mesin ATM yang juga banyak digunakan di Indonesia.
Masalah dari malware ini menurut Yudhi lantaran ATM yang masih menggunakan sistem operasi Windows lawas. Sistem operasi ini pun tak pernah dilakukan pembaruan keamanan maupun menggunakan perangkat lunak keamanan.
Alasannya, pihak bank menganggap jaringan ATM mereka aman karena merupakan sistem tertutup. Artinya, jaringan ATM tidak terpapar oleh internet sehingga sulit disusupi penjahat siber.
"Dianggap ATM sudah closed network, dianggap jaringan aman, dan (memasang) antivirus dibilang bikin berat," tuturnya.
Lihat juga:Facebook Ikut Larang Peredaran Iklan Bitcoin |
"Disini bisa dibilang kalau belum kejadian belum percaya," tandasnya.
Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa sekelompok hacker yang diperkirakan berhubungan dengan sindikat internasional telah berhasil membobol hingga Rp13 miliar (US$1 juta) dari mesin-mesin ATM di seluruh AS. (eks/age)