Fitur Berita Google Disebut Tiru Snapchat Discover

Eka Santhika & sat, CNN Indonesia | Minggu, 18/02/2018 08:23 WIB
Fitur Berita Google Disebut Tiru Snapchat Discover Snapchat (Eric Thayer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perilisan fitur AMP Stories milik Google di minggu ini menuai komentar yang cukup tajam. Beberapa pihak menuding fitur tersebut sangat mirip dan bahkan seakan 'menyontek' salah satu fitur Snapchat Discover.

AMP Stories dan Snapchat Discover merupakan media visual yang menampilkan berita yang telah dikurasi dalam bentuk foto atau video yang berdurasi pendek. Lewat blog pengembang, fitur tersebut ditampilkan dalam format yang mirip dengan fitur Stories pada Instagram, yang lagi-lagi merupakan salah satu fitur di aplikasi Snapchat.

Meski secara tidak langsung menanggapi fitur Google ini, Wakil Presiden untuk Konten Snapchat Nick Bell tetap menyatakan bahwa Snapchat adalah platform pertama yang mempopulerkan sekaligus antusias dengan industri yang semakin mengembangkan fitur berita visual tersebut.


"Ambisi kami di Snapchat adalah untuk memberdayakan kemampuan bercerita yang baik, dan kami pikir kami adalah yang terbaik dalam memulai fitur tersebut dalam format mobile. Kami senang melihat industri yang mulai bergerak untuk mengembangkan fitur itu dan berharap lebih banyak media berita yang berinvestasi untuk fokus pada konten berita yang tersedia untuk mobile seperti ini," jelas Bell, seperti dikutip TechCrunch pada Rabu (14/2). 

Selain menuai protes dan kritikan, fitur tersebut juga mengundang pertanyaan lainnya, seperti bagaimana Google menonjolkan fitur AMP Stories dalam pencarian hingga bagaimana pendapatan fitur tersebut dibagi walau dalam platform belum terlihat adanya iklan.

Meski demikian, pertanyaan terbesar untuk AMP Stories adalah bagaimana penerbit dan pengiklan bereaksi atas konten majalah mobile animasi mereka yang ditampilkan pada lebih dari satu medium.

[Gambas:Youtube]

Seperti Dua Sisi Koin

Keputusan Google untuk 'terinspirasi' dari fitur Snapchat Discover menuai reaksi yang positif dan negatif layaknya dua sisi mata uang.

Dengan format yang sangat mirip tersebut, Google dapat dituding sebagai pengembang yang mencuri konten sekaligus iklan dari Snapchat yang telah lebih dulu menampilkan fitur serupa.

Namun demikian, argumen ini dapat dibantah sebab kedua pengembang itu memiliki demografi target pasar yang berbeda. Snapchat lebih menyasar pasar pengguna yang umurnya lebih muda dari pengguna Google.

Hal ini ditambah dengan pengiklan yang kebanyakan memilih platform dari segi umur, atau faktor lainnya atau bahkan keduanya.

Salah satu sisi positif yang paling mungkin terjadi adalah Google meraih keuntungan lewat fitur yang bahkan tidak ia kembangkan secara asli.

Tahun lalu, Snapchat meraih keuntungan lebih dari US$100 juta atau setara Rp1,3 miliar dari fitur Snapchat Discover sementara Google dapat mengembangkan angka itu untuk keseluruhan format.

Menarik kembali konten yang sudah didaur ulang dari Snapchat juga dapat menjadi salah satu kunci sukses AMP Stories, karena penerbit tidak perlu ragu lagi dengan kisah sukses fitur tersebut yang sudah tercatat lewat kesuksesan Snapchat Discover.


(eks)