Mahasiswa Indonesia Kian Piawai Terapkan 'Machine Learning'

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Jumat, 16/03/2018 11:19 WIB
Ajang inovasi Imagine Cup yang diselenggarakan oleh Microsoft tahun ini banyak diwarnai oleh penemuan yang memanfaatkan kemampuan machine learning. Ilustrasi. (Foto: StartupStockPhotos)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ajang inovasi teknologi ternama, Imagine Cup biasa menghadirkan temuan-temuan menarik dari pesertanya. Dalam edisi terbaru, Imagine Cup Indonesia banyak dihiasi teknologi mesin pembelajar (machine learning).

"Kesamaan mereka semua adalah memakai machine learning dalam inovasinya," kata Audience Evangelism Manager dan Commercial Software Engineering Microsoft Indonesia, Irving Hutagalung.

Ada lima tim yang berhasil masuk babak final turnamen buatan Microsoft itu. Masing-masing punya produk yang berbeda dengan bidang yang beragam mulai dari pertanian, perikanan, lingkungan, hingga edukasi.


Institut Teknologi Bandung jadi perguruan tinggi paling mentereng setelah mahasiswanya yang tergabung di tim Taleus dan Ratatouille lolos ke babak final.

Keduanya sama-sama mengusung produk chatbot namun dengan tujuan yang berbeda. Taleus berkonsentrasi ke agrikultur, sedangkan Ratatouille ke edukasi.

Aplikasi chatbot bikinan Talues dinamai dr. Tania. Dinamai demikian karena chatbot ini bisa mendiagnosis penyakit yang diderita tanaman komoditas seperti beras, jagung, hingga kedelai. Cukup memotret daun yang tak sehat, chatbot akan menampilkan jenis penyakit yang diderita sampai obat yang diperlukannya.

Sementara itu, Viachat, aplikasi chatbot buatan Ratatouille diciptakan untuk piawai membantu anak-anak belajar. Fiturnya yang paling menonjol adalah ia bisa mengekstrak kata-kata kunci dari teks suatu buku yang dipotret. Viachat bahkan bisa menyulap teks tersebut menjadi kuis kecil untuk melatih pemahaman penggunanya.

Tim Carepol dari Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) menciptakan alat pemantau polusi udara. Menariknya, alat buatan mereka bersifat portabel sehingga bisa mengukur kualitas udara di mana pun.

Ada pula tim FishGator dari Universitas AMIKOM Yogyakarta. Tim ini punya produk berupa mesin pintar yang dapat memantau kondisi air dalam tambak benih ikan kerapu. Mesin tersebut bisa memantau suhu, kelembapan, hingga anomali kesehatan ikan. Tak hanya itu, mesin ini juga bisa menilai kapan waktu yang tepat untuk menebar pakan dan memberikannya.

Namun yang spesial dari semua kontestan adalah drone buatan tim Beehives Drones. Tim yang terdiri dari mahasiswa pascasarjana The University of Manchester tersebut menciptakan drone cerdas yang mampu terbang tanpa remote control.

Dengan kapasitas beban mencapai 10 kilogram, drone mereka bisa membawa air atau pupuk untuk kemudian disiramkan ke area pertanian atau perkebunan.

"Cukup dengan aplikasi yang kita buat, kita bisa meminta drone untuk melakukan berbagai macam mulai dari pengamatan wilayah, mengairi tanaman, hingga memberi pupuk, dan kita cukup menunggu selesai tanpa mengendalikannya dengan remote control," jelas Hilton Tnunay yang menciptakan drone tersebut.

Fungsi drone buatan Beehives Drones itu diklaim serbaguna. Dengan beberapa sentuhan, ia pun bisa disulap menjadi drone pengantar barang seperti yang dipakai oleh Amazon, pemantau lalu lintas, atau pemetaan wilayah.

"Yang menonjol karena drone mereka ini tanpa kendali," kata Arief Rahmatsyah dari TelkomTelstra yang jadi juri di final itu.

Pada penutup acara, Irving meyakini bahwa 2018 sebagai tahunnya machine learning. Berbeda dengan efek negatif yang ditampilkan serial televisi Black Mirrors, machine learning menurut Irving adalah hal positif yang tak diperlukan dalam teknologi modern.

"Tujuan dari machine learning adalah agar manusia bisa meninggalkan suatu aktivitas kepada mesin sehingga kita bisa fokus menyelesaikan tugas lainnya." (evn)