Facebook Beberkan Cara Kurasi Konten Negatif

Eka Santhika, CNN Indonesia | Rabu, 16/08/2017 07:40 WIB
Facebook membentuk tim khusus untuk mengkurasi konten negatif, yakni dengan menggabungkan teknologi dan campur tangan manusia. Ilustrasi: Facebook memberkan cara kurasi konten negatif yang beredar di Indonesia. (Foto: CNN Indonesia/Eka Santhika Parwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Facebook memiliki tim khusus yang khusus bertugas melakukan kurasi konten negatif di Indonesia. Namun, tim tersebut tidak bekerja di kantor Facebook Indonesia. Hal ini disampaikan Country Director Facebook Indonesia, Sri Widowati saat memperkenalkan kantor anyar Facebook di Jakarta, Senin (14/8).

Jawaban ini disampaikan saat tim CNNIndonesia.com menanyakan kemungkinan adanya penambahan tenaga kurasi konten negatif di Indonesia. Hal ini terkait dengan rencana CEO Facebook Mark Zuckerberg yang ingin menambah 3.000 orang di seluruh dunia untuk melakukan kurasi konten yang beredar di Facebook.

Namun, Wido tak menjawab jelas pertanyaan tersebut. "Tim kurasi ini akan menjaga keragaman pengguna Facebook. Tentu akan ada tim kurasi dari Indonesia, tapi mereka tidak berkantor disini," tuturnya.

Tim kurasi eksternal


Penambahan 3.000 orang yang dimaksud Wido tak lain untuk melengkapi 4.500 orang yang sebelumnya sudah bekerja untuk menyaring konten-konten negatif di Facebook. Konten negatif yang dimaksud adalah konten terkait kekerasan, bunuh diri, terorisme, radikalisme, kekerasan, dan ujaran kebencian.

Penambahan moderator konten ini menurut Zuckerberg diperlukan untuk mempercepat respon Facebook terhadap laporan yang disampaikan pengguna.

"(Moderator ini) akan meninjau jutaan laporan yang Facebook dapat tiap minggu. (Penambahan ini) akan mempercepat proses," jelas Zuck seperti dikutip The Guardian.

Dalam pernyataannya, Zuck memang tidak menyebutkan secara spesifik hubungan kerja para kurator ini dengan Facebook. Namun, seperti kebanyakan perusahaan teknologi lainnya, Facebook disinyalir juga menggunakan moderasi dari perusahaan outsourcing, demikian disebutkan The Verge.

Berbasis Machine learning dan Geofencing

Saat disinggung cara kerja tim kurasi, Wido menyatakan bahwa pihaknya mengandalkan gabungan teknologi machine learning dan campur tangan manusia secara manual untuk mengkurasi konten. Ia menjelaskan alasan utama penggunaan machine learning untuk menyaring konten.

"Machine learning ini diperlukan untuk penyaringan yang lebih efektif dengan jumlah konten yang begitu besar," jelasnya.

Namun begitu, selain campur tangan dua faktor di atas, sempat beredar kabar bahwa Facebook akan menggunakan teknologi geofencing. Dalam pertemuan dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Facebook menyebutkan akan menerapkan teknologi geofencing untuk menangkal konten negatif yang disepakati untuk dihalau di Indonesia.

Terkait hal ini, Wido pun tak banyak angkat bicara.

"Saya tidak bisa berbicara teknis terkait geofencing, tapi di tiap negara punya kebijakan berbeda terkait konten yang akan diblokir. Konten negatif ini nantinya tak akan terlihat bagi pengguna yang ada di Indonesia. Tapi tetap bisa dilihat jika diakses dari luar wilayah Indonesia," terang Wido.

Teknologi geofencing sendiri merupakan teknologi berbasis GPS atau RFID (radio-frequency identification) untuk menciptakan batas geografis virtual. Dengan teknologi ini, Facebook akan mendapatkan laporan berdasarkan hasil monitor pergerakan pengguna berbasis perangkat seluler ketika memasuki atau meninggalkan area tertentu.