"LAPAN terus memantaunya. Ya, perkiraan jatuh sekitar pk 07.49 WIB dan lintasannya di luar wilayah Indonesia," tulis Thomas saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin pagi (2/4).
Sebelumnya, Aerospace Corp. memperkirakan waktu kejatuhannya Tiangong-1 akan terjadi sekitar pukul 7.30 WIB dan berlangsung selama 1 jam 42 menit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Indonesia, China, Amerika Serikat, Eropa Selatan, Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tenggara ada didalam cakupan garis lintang tersebut.
Stasiun luar angkasa seukuran bus dengan berat 8,5 ton ini diperkirakan akan terbakar begitu memasuki atmosfer, sehingga kecil kemungkinan sisa bangkai stasiun luar angkasa ini akan melukai seseorang.
"Kemungkinan seseorang akan terlempar oleh puing stasiun luar angkasa ini satu banding setriliun," tulis The Independent seperti dikutip dari Assosiated Press, Minggu malam (1/4).
Andrew Abraham, staf teknis senior di Aerospace menyebut bahwa sulit memperkirakan berapa persen dari puing pesawat yang bisa mendarat dibumi. Sebab, mereka tak memiliki detil bagaimana stasiun luar angkasa ini dibuat. China pun tak mempublikasikan detil rancangan stasiun luar angkasanya itu.
"Karena China tak benar-benar memberikan informasi itu, prediksi terbaik kami sekitar 10-40 persen massa Tiangong-1 yang akan selamat (dari terbakar di atmosfer)," jelasnya seperti dikutip Space.
Hilang kontak
Diluncurkan pada 2011, Tiangong-1 adalah stasiun luar angkasa pertama China. Stasiun ini digunakan sebagai platform percobaan untuk proyek lain yang lebih besar. Misal untuk proyek Tiangong-2 yang meluncur pada September 2016. Tiangong-2 akan menjadi stasiun luar angkasa China permanen di masa depan.
Tiangong yang memiliki arti Istana Surga tersebut dirancang untuk diisi oleh dua awak. Fungsinya sebagai platform tes untuk menyempurnakan prosedur perakitan dan operasi lainnya. Kru terakhirnya berangkat pada 2013.
Banyak ahli luar angkasa barat menyebut kalau China telah kehilangan kendali dari stasiun luar angkasanya ini. Meski demikian China menolak asumsi tersebut, seperti dikatakan Kepala perancang luar angkasa di laboratorium China, Zhu Zongpeng.
Jika memang tak lepas kendali, tapi ia tak memberikan keterangan spesifik bagaimana China akan memandu stasiun luar angkasanya itu kembali ke bumi, demikian disebutkan The Independent. (eks)