Hal itu dilaporkan melalui situs Orbit Sains LAPAN. Lembaga tersebut juga menerangkan bahwa Tiangong-1 akan melewati Samudera Atlantik, Afrika, Asia, dan berakhir di Samudera Pasifik tanpa melewati wilayah Indonesia.
Lintasan Tiangong yang tidak melewati wilayah Indonesia (screenshoot via lapan.go.id) |
"Menjelang jatuhnya dalam sebulan terakhir, Tiangong-1 mengalami penurunan ketinggian rata-rata sebesar 3.2 km/hari. Jika ketinggiannnya mencapai 120 km maka ia dianggap mengalami atmospheric reentry sehingga secara cepat akan jatuh menuju permukaan bumi," tambah LAPAN, Senin (2/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Twitter]
Tiangong-1 telah menjadi pemberitaan sejak akhir 2017. Diluncurkan pada 2011, Tiangong-1 adalah stasiun luar angkasa pertama China. Stasiun ini digunakan sebagai platform percobaan untuk proyek lain yang lebih besar. Misal untuk proyek Tiangong-2 yang meluncur pada September 2016. Tiangong-2 akan menjadi stasiun luar angkasa China permanen di masa depan.
Kontak terakhir dengan stasiun ini terputus pada 2016. Sejak saat itu, orbitnya secara berkala semakin mendekat ke bumi dengan sendirinya. Banyak ahli luar angkasa barat menyebut kalau China telah kehilangan kendali dari stasiun luar angkasanya ini. (eks)
Lintasan Tiangong yang tidak melewati wilayah Indonesia (screenshoot via lapan.go.id)