"Fokus di pasarnya kita. Mereka (rival) gempurnya di pasar Rp3 jutaan. Evercoss di pasar Rp1 jutaan karena kami dari dulu dikenal yang paling bagus di situ. Udah menang di situ, ya, main di situ," ungkapnya usai peluncuran 4G Xtreme di Kota Kasablanka, Jumat (6/4).
Salah satu strategi untuk memenangkan segmen pasar ponsel Rp1,5 juta adalah dengan menghadirkan ponsel dengan notch atau 'poni'. Rancangan poni ini ditiru dari rancangan iPhone X yang meluncur tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Samsung 'Sindir' Desain Layar iPhone X |
Sementara itu, selain Evercoss, ponsel dengan desain poni sudah dilakukan oleh Infinix, Asus Zenfone 5 dan 5Z, LG G7 dan Huawei P20.
Tapi, hal itu sulit dilakukan mengingat Apple mesti menaruh kamera depan dan sejumlah sensor pengenal wajah untuk fitur Face ID di bagian depan ponsel. Tapi, desain yang dianggap cacat ini malah banyak ditiru oleh produsen Android.
Pengikut
Evercoss tak takut disebut sebagai pengikut meski memang rancangan tersebut mengikuti desain iPhone X. Dia menuding bahwa banyak ponsel lain yang juga menjadi pengikut.
"Dibilang follower katakanlah ponsel 'hijau' atau 'biru' harusnya juga follower," lanjutnya.
Tahun lalu, Suryadi mengakui dua merekan itu memang sukses mengusung ponsel kamera ganda, namun ia tak mau kalah bahwa ponsel Evercoss U50A andalannya juga berhasil merebut hati pasar.
Ponsel ini sukses lantaran punya nilai jual yang beda, menawarkan ponsel tahan banting. Suryadi menyebut kalau ponsel palu Evercoss U50A itu diklaim lebih keras dari tembaga.
Sehingga, Suryadi tak mempermasalahkan jika dibilang pengikut. Sebab, meski membawa fitur yang sama, Evercoss selalu menekankan bahwa ponsel buatannya akan lebih tahan banting.
Secara keseluruhan, Evercoss berniat menjual setidaknya 1,5 juta perangkat di Indonesia tahun ini. Sejak tahun lalu, pihaknya mengklaim mendapat 5 persen pangsa pasar dari penjualan 80 juta perangkat di seluruh Indonesia. (eks)