"Saya ingin menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus Cambridge Analytica. Kami terus berupaya untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dan mengidentifikasi langkah-langkah yang harus diambil untuk memastikan hal serupa tidak terulang kembali," jelas Ruben, Selasa (17/4).
Ruben menjelaskan pada 2013, sebuah aplikasi thisisyourdigitallife dikembangkan oleh seorang peneliti bernama Dr. Aleksandr Kogan. Ia seorang akademisi di Cambridge University, bukan bagian dari karyawan Facebook.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah Kogan mendapatkan data pengguna Facebook, data tersebut kemudian diberikan ke Cambridge Analytica. Ruben menegaskan Facebook tidak memberikan izin atau menyetujui pemindahan data tersebut dan hal ini merupakan pelanggaran kebijakan perusahaan.
Lihat juga:DPR Undur Ancaman Blokir Facebook Sebulan |
Ia menyebut aplikasi tersebut tidak mengantongi informasi sensitif pengguna seperti kata sandi atau informasi finansial. Mereka hanya memiliki akses data ke pengguna yang telah mengunduh aplikasi dan memberikan akses datanya.
"Data dalam hal ini termasuk informasi teman mereka, data yang dipublikasikan teman mereka di platform Facebook sesuai dengan pengaturan privasinya," pungkasnya.
Meski mengakui ada pelanggaran yang dilakukan oleh Kogan dan Cambridge Analytica, Ruben mengaku sejauh ini pihaknya belum menemukan bukti bahwa keduanya melanggar sertifikasi penghapusan dengan tidak menghapus data yang dimiliki.
Kendati demikian, pihaknya berjanji akan melakukan penyelidikan mendalam untuk kasus tersebut.
"Kami akan terus mendalami kemungkinan ini sembari membantu penyelidikan yang dilakukan Komisioner Informasi Inggris (ICO). ICO meminta kami menunda langkah audit dan pencarian fakta tertentu sambil menunggu penyelidikan mereka selesai," imbuhnya. (age/evn)