Konsentrasi Gas Karbon Indonesia Masih di Bawah Global

Eka Santhika, CNN Indonesia | Selasa, 01/05/2018 23:39 WIB
Konsentrasi Gas Karbon Indonesia Masih di Bawah Global Konsentrasi gas karbon di atmosfer sebabkan efek rumah kaca yang meningkatkan suhu bumi secara global (Iggoy el Fitra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Konsentrasi gas rumah kaca di Indonesia sudah mendekati angka 400 ppm. Hal ini berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

"Itu adalah kondisi pengukuran terakhir pada Maret 2018," kata Kepala Seksi Observasi BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang, Budi Satria di Palupuah, Agam, Selasa (1/5), seperti dikutip Antara.

Angka tersebut masih di bawah angka global yang sudah di atas 400 ppm. Angka 400 ppm berarti jumlah partikel yang terukur dalam satu juta partikel udara terdapat 400 gas karbon.


Gas rumah kaca tersebut berpengaruh pada peningkatan suhu bumi. Meningkatnya suhu bumi akan banyak berpengaruh pada kelangsungan makhluk hidup.

Jika tak ada upaya pengurangan emisi gas rumah kaca, peneliti memprediksi pada tahun 2100 kepadatan gas karbon naik jadu 900 ppm. Jika hal ini terjadi, diperkirakan bumi sudah kehilangan hutan-hutannya.

"Pada kondisi itu suhu meningkat 2 derajat Celcius sejak [masa] praindustri. Sampai sekarang saja suhu sudah meningkat 0,8 derajat Celcius. Sudah cukup panas bukan?" ujarnya.

Pada masa praindustri konsentrasi gas rumah kaca berada di angka 280 ppm. Untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, maka perlu dilakukan upaya seperti penghijauan dan menghindari aktivitas membakar lahan.

Angka gas rumah kaca yang terukur di Bukit Kototabang dan mewakili kondisi Indonesia secara keseluruhan. Sebab, menurut BMKG hanya stasiun tersebut yang rutin melakukan sampling gas rumah kaca.

Hasil penelitian ini lantas akan dikirim dan diteliti lagi oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) di Amerika Serikat.
(eks/eks)