"Itu adalah kondisi pengukuran terakhir pada Maret 2018," kata Kepala Seksi Observasi BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang, Budi Satria di Palupuah, Agam, Selasa (1/5), seperti dikutip Antara.
Angka tersebut masih di bawah angka global yang sudah di atas 400 ppm. Angka 400 ppm berarti jumlah partikel yang terukur dalam satu juta partikel udara terdapat 400 gas karbon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika tak ada upaya pengurangan emisi gas rumah kaca, peneliti memprediksi pada tahun 2100 kepadatan gas karbon naik jadu 900 ppm. Jika hal ini terjadi, diperkirakan bumi sudah kehilangan hutan-hutannya.
Angka gas rumah kaca yang terukur di Bukit Kototabang dan mewakili kondisi Indonesia secara keseluruhan. Sebab, menurut BMKG hanya stasiun tersebut yang rutin melakukan sampling gas rumah kaca.
Hasil penelitian ini lantas akan dikirim dan diteliti lagi oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) di Amerika Serikat.
(eks)