Bumi Bakal Makin Panas Lebih Dari Dua Derajat pada 2100

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 01/08/2017 01:46 WIB
Bumi Bakal Makin Panas Lebih Dari Dua Derajat pada 2100 Menurut kajian yang dilakukan para ahli, Bumi cenderung makin panas dan terancam melebihi dua derajat pada 2100 nanti. (REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim ilmuwan iklim menemukan suhu Bumi cenderung akan meningkat lebih dari dua derajat Celsius pada abad ini. Peningkatan ini melebihi ‘ambang kritis’ yang mestinya dihindari terkait pemanasan global.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam the journal Nature Climate Change dan menunjukkan peluang 90 persen suhu Bumi akan meningkat sebesar dua hingga 4,9 derajat Celsius dalam abad ini.

Diberitakan Reuters, peneliti di the University of Washington menemukan hanya lima persen peluang pemanasan itu bisa berada tepat atau di bawah dua derajat Celsius.



Ambang dua derajat Celsius sendiri merupakan kesepakatan pertemuan global tentang iklim di Paris pada 2015 lalu untuk membatasi emisi gas rumah kaca yang memanaskan Bumi.

Menurut Adrian Raftery, penulis utama penelitian tersebut dari University of Washington, gagalnya mencapai target dua derajat Celsius memiliki dampak dramatis terhadap kehidupan manusia, seperti kekeringan berkepanjangan dan naiknya permukaan laut.

Penelitian ini menggunakan proyeksi statistik berdasarkan jumlah penduduk global, GDP per kapita, serta jumlah emisi karbon untuk setiap dolar dari aktivitas ekonomi yang dikenal sebagai intensitas karbon.


“Analisis kami menunjukkan target dua derajat adalah rencana paling baik,” kata Raftery. “Ini dapat dicapai, namun hanya dengan usaha besar, berkelanjutan di semua lini selama 80 tahun ke depan”

Menurut the U.N Environment Programme, emisi gas rumah kaca yang sebagian besar datang dari pembakaran bahan bakar fosil sebesar 54 miliar ton per tahun mesti dipotong menjadi 42 miliar ton pada 2030 untuk mendapatkan kenaikan suhu rata-rata di bawah dua derajat Celsius.


“Negara perlu mengubah insentif ekonomi untuk memproduksi karbon, misalnya dengan memperkenalkan pajak karbon dan mendorong inovasi yang akan meningkatkan efisiensi energi,” kata Raftery.

“Dunia harus belajar lebih banyak dari negara-negara yang amat hemat karbon seperti Perancis, yang memiliki infrastruktur transportasi rendah karbon,” lanjutnya.