Namun menurut studi, erupsi freatik tidak terjadi di semua gunung. Letusan ini paling mungkin terjadi pada gunung dengan parameter batuan yang agak terbatas. Misalnya, batuan beku yang tidak terlalu kuat.
Freatik membuat gunung memuntahkan material debu vulkanik, namun tidak melelehkan magma. Dia berbeda dari erupsi lava yang melelehkan cairan magma dan cenderung tidak meletus. Erupsi freatik juga bisa terjadi tanpa adanya tanda-tanda sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, erupsi freatik di Merapi memiliki ketinggian 5,5 km dengan muntahan berupa abu vulkanik, pasir dan material piroklastik (gas panas, abu vulkanik, bebatuan).
Berdasarkan sebab dan material yang dimuntahkannya, erupsi freatik berbeda dengan erupsi gunung berapi lainnya. Beda letusan ini disebabkan karena magma yang keluar bersentuhan dengan air, baik secara langsung atau tidak.
Air yang bersentuhan dengan magma ini bisa berasal dari air tanah, laut, danau, kawah maupun hujan. Ketika persinggungan antara air dan magma yang bersuhu tinggi terjadi, maka air akan menguap di dalam Bumi.
Uap air tersebut kemudian naik melalui retakan tanah dan memanaskan batuan di atasnya. Sementara itu, air dibawah akan mendidih. Tekanan dari uap air yang mendidih ini bisa menyebabkan retakan merambat makin cepat.
Letusan model ini akan hadir di gunung yang memiliki rasio aspek keretakan rata-rata relatif besar (β ~ 10-1) dan konsentrasi retak tidak terlalu rendah (Ω> 10-2), seperti disebutkan pada jurnal penelitian geofisika AGU.
Selain Merapi, Gunung Agung di Bali, Gunung Dempo di Sumatra Selatan, Gunung Dieng di Jawa Tengah, Gunung Marapi di Sumatra Barat, Gunung Gamalama di Maluku Utara dan lainnya juga pernah mengalami erupsi yang sama. (eks)