Ilmuwan Ribut Soal Apakah Gurita Alien atau Bukan

Eka Santhika, CNN Indonesia | Rabu, 23/05/2018 11:21 WIB
Ilmuwan Ribut Soal Apakah Gurita Alien atau Bukan Ilustrasi gurita (cocoparisienne/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Studi yang dipublikasikan pada Maret lalu oleh 33 ilmuwan dari sejumlah institusi ternama di dunia menyebut kemungkinan gurita adalah alien yang jatuh ke bumi.

Telur gurita yang beku masuk ke bumi terbawa oleh meteor es. Laporan tersebut pertama kali muncul di jurnal Progress in Biophysics and Molecular Biology. Laporan itu mengajukan tesis mengenai ledakan Kambria. Ini adalah ledakan tiba-tiba yang menyemburkan benih-benih mahkluk hidup.

Keanekaragaman hayati di Bumi adalah hasil lontaran virus dari ledakan tersebut yang jatuh ke bumi dan terbawa oleh meteor. Ledakan ini diperkirakan terjadi pada masa kelompok hewan modern muncul pertama kali dalam catatan fosil sekitar 540 miliar tahun lalu.


Untuk memperkuat tesis mereka, para ilmuwan ini lantas menggunakan gurita sebagai contoh. Gurita memiliki sistem syaraf yang kompleks, mata yang menyerupai kamera dan kemampuan berkamuflase. Semua kemampuan ini muncul mendadak tanpa adanya tanda-tanda serupa dari nenek moyang hewan tersebut.

"Sangat masuk akal untuk memperkirakan [keanehan ini] sebagai pinjaman dari sesuatu di masa depan terkait evolusi di bumi atau dalam garis besar merupakan [bagian dari] evolusi alam semesta," seperti tertulis dalam penelitian tersebut.

Dalam salah satu teori yang mereka ajukan, para peneliti mengandaikan benih gurita itu jatuh ke laut dari sebuah komet es buah dari ledakan Kambria.

Kemungkinan lainnya adalah virus luar angkasa yang jatuh ke bumi itu telah menginfeksi sebagian populasi cumi-cumi yang ada di bumi dan menyebabkan mereka berevolusi menjadi gurita yang kita kenal sekarang.

Penelitian ini menghidupkan kembali teori panspermia yang menyebut bahwa kehidupan di bumi bermula dari luar angkasa. Konsep ini hangat diperdebatkan dari tujuh teori lain yang menyatakan bagaimana kehidupan di bumi bermula, seperti diberitakan Newsweek

Ilmuwan lain yang tidak terlibat dalam penelitian ini tengah mengajukan keberatan serius mengenai publikasi tersebut.

"Tidak perlu dipertanyakan bahwa mengungkap asal mula keragaman hayati memang menarik. Tapi, saya pikir [penelitian] ini kontraproduktif," jelas Ken Stedman, ahli virologi dan profesor biologi dari Universitas Portland State seperti dikutip Live Science

"Banyak klaim yang ada dalam makalah ini dibuat tanpa benar-benar melihat literatur," tandasnya.

Ia lantas mencontohkan, bahwa genom gurita telah dipetakan pada 2015. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa sistem syaraf gurita terpisah dari nenek moyangnya, cumi-cumi, sekitar 135 juta tahun lalu. Jauh dari waktu ledakan Cambrian diperkirakan terjadi.

Teori mereka yang menyebut cumi-cumi berevolusi menjadi gurita lantaran terinfeksi virus juga dibantahnya. Sebab, menurut Stedman, virus yang berbasis RNA harus berevolusi terlebih dulu dan memilih inang yang tepat sebelum mengubah cumi menjadi gurita.

Seorang ahli virus lainnya, Karin Mölling juga menyebut bahwa studi ini berguna untuk mempertimbangkan pengaruh luar angkasa terhadap kehidupan di bumi. Namun menurutnya, "studi ini tak bisa dianggap serius [...] tak ada bukti yang diajukan sama sekali," tandasnya. (eks/eks)