Pasalnya, data dari Indonesia Security Incident Response Team On Internet Infrastructure (ID SIRTII) menunjukkan sebanyak 80 persen aplikasi dalam Google Playstore telah disusupi oleh Malware berjenis Potentially Unwanted Program (PUA).
Chief Technology Officer Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) Salahuddien Manggalany mengatakan antivirus hanya membaca aplikasi yang terlihat legit tersebut. Padahal di dalam terdapat PUA yang 'nebeng' dalam aplikasi yang diunduh pengguna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ID SIRTII mencatat sebanyak tiga juta komputer di Indonesia terinfeksi Malware pada Mei 2018. Padahal, sebelumnya pada Maret Malware hanya menginfeksi 1,4 juta komputer, artinya meningkat lebih dari 100 persen.
Didin mengatakan jumlah ini bisa meningkat karena survei ini dilakukan dengan metode random sampling di 20 Network Acces Point (NAP) di Indonesia. Indonesia memiliki lebih dari 40 NAP, artinya riset baru dilakukan pada setengah jumlah NAP
Didin mengatakan antivirus tidak selalu dapat menangkal Malware. Pasalnya variasi Malware selalu diperbarui untuk dapat membobol antivirus. Belum lagi Malware juga mampu untuk menganalisa sistem keamanan komputer.
"Ibarat rumah, perampok selalu melihat mana rumah yang memiliki sistem keamanannya rentan. Misalnya rumah itu ada anjing tapi tidak ada CCTV, perampok artinya tahu bagaimana cara membobol rumah dengan keamanan yang berupa anjing itu," kata Didin.
Didin mengatakan hacker bisa mengeksploitasi kelemahan-kelemahan antivirus sebelum membobol. Sehingga virus bisa memperbarui varian sangat cepat untuk membobol antivirus belum memperbarui sistem untuk mendeteksi virus varian baru ini.
"Artinya sekarang Malware bisa deteksi antivirus. Dia lihat dulu keamanannya bagaimana. Sehingga bisa mempercepat varian yang baru. Nah biasanya antivirus itu update ya seminggu kali, pasti dia ketinggalan. Jadi berlomba-lomba mana yang update duluan," ucap Didin. (age/age)