Dalam kondisi ini, Google mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) untuk memprediksi waktu kematian seseorang.
Algoritme Google membaca 175.639 poin data dari seorang pasien pengidap kanker payudara stadium lanjut. Penyakit ini membuat cairan memenuhi paru-paru dan organ vital lainnya sehingga dokter memperkirakan ia hanya memiliki peluang hidup sebesar 9,3 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belajar dari kasus tersebut, Google mengembangkan alat untuk memperkirakan peluang hidup pasien, termasuk berapa lama ia harus dirawat di rumah sakit, hingga kemungkinan pasien perlu dirawat kembali, dan waktu meninggal yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Nigam Shah, profesor dari Stanford University sekaligus salah satu penulis dalam riset ini menyebut metode yang ada sekarang menghabiskan 80 persen waktu untuk membuat data laik saji. Sementara pendekatan yang digunakan Google justru menghindari hal tersebut.
Lihat juga:Alasan Kecerdasan Buatan Menakutkan |
Jeff Dean, kepala bagian kecerdasan buatan Google kepada Bloomberg mengatakan tahap berikutnya yang akan ditempu yakni mengintegrasikan sistem yang memprediksi gejala penyakit ke klinik-klinik. Ia menyebut tingkat akurasi prediksi penyakit diharapkan bisa menjadi harapan dan alarm.
"Mereka memahami masalah apa yang perlu segera dicarikan solusinya. Sejauh mereka (Google) telah melakukan cukup eksperimen kecil untuk mengetahui hasil yang berbeda-beda dari setiap pengujian," ungkap Jeff.
Ia berharap kecerdasan buatan ini mampu mengarahkan para dokter kepada pengobatan tertentu dan membantu mendiagnosa penyakit pasien dengan lebih tepat. (evn)