Dihantam BI Rate, Kredit Kendaraan Dipastikan Naik

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Jumat, 29/06/2018 17:33 WIB
Perusahaan leasing bakal menaikkan skema cicilan kendaraan menyusul kenaikan suku bunga acuan. Seorang wanita model berdiri di samping all-new Suzuki Ertiga. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan pembiayaan bakal menaikkan skema cicilan kendaraan menyusul kenaikan suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) menjadi 5,25 persen. Kenaikan paket kredit kendaraan dipastikan dalam waktu dekat.

Deputi Direktur Adira Finance Niko Kurniawan mengatakan kenaikan terjadi karena paket kredit yang disediakan mengikuti biaya modal dari perbankan, maupun sumber dana lain seperti obligasi yang ikut berdampak atas naiknya suku bunga acuan.

"Dalam waktu dekat naik. Karena suku bunga pinjaman dari Adira akan naik," kata Niko kepada CNNIndonesia.com, Jumat (29/6).


Menurut Niko, pihaknya sudah mulai kewalahan ketika suku bunga acuan mencapai 4,5 persen. Namun kenaikan cicilan kendaraan bisa ditekan bertepatan dengan momen lebaran dan tidak membebankan kenaikan cicilan per bulan pada konsumen.

"Kemarin BI rate naik dua kali total 0,5 persen sudah membuat cost of fund naik. Nah setelah lebaran ini pasti semua finance company maupun perbankan akan menaikkan bunga lending-nya," ungkap dia.
Terkait berapa kenaikan, ia melanjutkan akan sama seperti persentase naiknya suku bunga acuan. "Pokoknya tidak lama lagi berkisar sama dengan kenaikan BI rate," ujar dia.

Sementara itu sebelumnya Finance Director Mandiri Utama Finance (MUF) Kuki Kadarisman mengatakan ada berbagai dampak yang biasanya terjadi terhadap perusahaan leasing pasca kenaikan suku bunga acuan.

Pertama, ia memaparkan kenaikan tersebut bakal menyebabkan biaya dana dari bank kreditur pendukung pembiayaan penjualan mobil juga naik.

"Lalu itu juga akan berdampak terhadap peta dan market risk (risiko pasar) yang makin bersaing lebih ketat," kata Kuki.

Kedua, ia juga menilai risiko akan kredit meningkat dan berakibat kepada menurunnya kolektabilitas yang sangat memungkinkan berpengaruh terhadap kelangsungan usaha bank.
"Itu juga akan menurunkan NPAT (laba bersih setelah pajak) perusahaan pembiayaan," ujar dia.

Tetapi, kenaikan suku bunga acuan belum tentu membuat perlambatan proses pembiayaan. Pasalnya, hal tersebut akan bergantung pada rasio likuiditas perusahaan.

"Kalau MUF tidak terpengaruh terhadap kondisi ini karena kami didukung oleh Bank Mandiri dan sembilan bank lainnya," tutupnya. (mik)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK