Astra Honda 'Buang' Limbah Baterai PCX Hybrid ke Singapura

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Jumat, 13/07/2018 23:55 WIB
Astra Honda 'Buang' Limbah Baterai PCX Hybrid ke Singapura Ilustrasi Honda PCX. (Foto: Dok. AHM)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengolahan limbah baterai menjadi salah satu persoalan yang belum ditemukan solusinya oleh pemerintah dalam menyambut era kendaraan listrik di Indonesia. Padahal, beberapa produsen pun diketahui telah mulai menjual kendaraan listrik meski masih berbentuk teknologi hybrid.

Salah satu produsen yaitu Astra Honda Motor (AHM) memiliki langkah menyiasati masalah limbah baterai. Honda yang menjual PCX Hybrid mengaku telah bekerjasama dengan perusahaan asal Swedia untuk mengolah limbah baterai.

"Kami sudah menyiapkan semuanya, baik. Kami sudah mengulik satu badan pengelolaan limbah namanya 'Tes AMM'.Dia dalah pengelolaan limbah di Swedia dan punya cabang di Indonesia," kata General Manager Technical Service Division AHM Wedijanto Widarso di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (13/7).
Namun untuk pengolahannya, ia menyampaikan baterai-baterai bekas dari PCX hybrid nantinya bakal 'dibuang' ke Singapura untuk selanjutnya diproses di sana.


"Nanti dia ekspor ke Singapura. Sampai sana nanti baru dikirim ke untuk dilakukan proses di sana. Di sana sistemnya bakar pakai insenerator," ucap dia.

Sementara untuk usia pakai dari baterai, maksimal akan bertahan hingga kurang lebih empat tahun. Dan setelahnya pemilik PCX hybrid disarankan untuk mengganti baterai dengan yang baru.

"Sebenarnya dia tidak akan mati secara grafis, dia akan berkurang peformanya. Tapi tetap bisa dipakai, tapi karena voltase dan segala macamnya sudah turun jadi performanya sudah turun. Kalau baterainya sudah tidak beroperasi, ya motor tetap bisa jalan. Tapi jadi PCX biasa, assistnya hilang," kata Wedi.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan bahwa memang untuk pengolahan baterai pemerintah belum menemukan solusi yang tepat.

"Kami belum tahu bagaimana itu," kata Harjanto di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Selasa (10/7).

Menurut Harjanto, pengolahan limbah baterai menjadi 'pekerjaan rumah' bagi pemerintah. Perlu diingat, dijelaskan Harjato, tak hanya Indonesia yang masih kebingungan untuk pengolahan limbah baterai. Dikatakan Harjanto, beberapa negara seperti China dan Jepang juga belum menemukan solusinya.
Negara yang menemukan pengolahan limbah baterai yang baik adalah Belgia. Bahkan, Jepang pun disebut Harjanto, memilih mendaur ulang limbah baterainya di Belgia.

"Makanya tadi saya sampaikan yang mengelola baterai lithium itu setahu saya baru Belgia. Jadi kaya dari Jepang tuh diekspor ke Belgia untuk recycle limbahnya," ucap dia. Ia pun belum dapat memastikan apakah cara tersebut juga akan diterapkan Pemerintah Indonesia.

"Saya tidak tahu (apakah akan diolah di Belgia atau tidak). Makanya kami akan lihat ini ke depan bagaimana. Waktu itu saya sudah bicara dengan Nissan, Mercedes-Benz tapi mereka belum dapat gambaran untuk mengelola limbah baterai," tegas Harjanto. (age/age)