Sebab, jumlah perusahaan yang menerapkan AI di Indonesia jauh lebih banyak dari negara lain di Asia Tenggara. Berdasarkan survei dari perusahaan bidang analitik SAS dan International Data Corportation (IDC) menunjukkan 24,6 persen perusahaan di Indonesia telah mengadopsi AI. Sementara perusahaan di Thailand menempati posisi dua dengan 17,1 persen, disusul Singapura (9,9 persen), dan Malaysia (8,1 persen).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesenjangan persentase tingginya pengadopsian dan ketiadaan rencana AI di Indonesia ini menurut Country Manager SAS Indonesia Peter Sugiapranata menunjukkan adanya hambatan evolusi dari bisnis tradisional di Indonesia menjadi bisnis digital.
Padahal menurut Peter, penerapan AI bisa mempercepat berbagai proses dalam bisnis. Menurut Peter, AI akan menjadi pendorong bagi perekonomian di Indonesia.
"Makin tingginya penggunaan AI di Indonesia terjadi berkat pertumbuhan yang cepat perusahaan Internet di negeri ini. Indonesia sedang mengalami peningkatan persaingan perusahaan-perusahaan teknologi-yaitu mereka menyediakan layanan angkutan online, pembiayaan mikro, mobile, dan e-commerce, begitu juga gaming, kata Peter dalam keterangan resmi kepada CNNIndonesia.com, Senin (16/7).
"Akses ke sumber daya (data) saat ini menjadi hambatan. Tapi saat ini ada pilihan untuk membuat wawasan data itu bisa diakses oleh siapapun dari berbagai tingkatan di perusahaan. Tidak hanya oleh peneliti dan pakar data," ujar Peter.
Survey SAS dan IDC ini melibatkan 146 responden dari empat negara di Asia Tenggara pada 2018. (eks)