Dengan kecerdasan buatan, media bisa membaca kebiasaan baca penggunanya, kemudian hasil analisa behaviour tersebut digunakan untuk menyajikan topik-topik bacaan yang memang ia minati.
"Personalized content (memanfaatkan) artificial intelligence. Dengan data yang diterima, media digital bisa tahu [...] Ada algoritma yang bisa memprediksi, jadi berita yang dibikin (disajikan) bener-bener personalized yang disukai dan dicari (oleh pembaca)," tuturnya, Rabu (26/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu ia berharap para pelaku industri media bisa memahami peta jalan pengelolaan media digital ke depan sehingga bisa mengatur strategi untuk memenangkan kompetisi.
"Ini adalah keniscayaan sekarang, (sehingga) mesti pintar-pintar membaca peluang," tegasnya.
"Kita tahu Kompas, Jawa Pos dulunya koran. Tapi mereka tahu mereka enggak akan survive kalau terus bertahan. Harga kertas terus naik, oplah menurun, iklan berkurang, mau gau movement. Mereka lantas buat kompas.com, jawapos.com. semua outlet sekarang bikin.com. ini proses metamorfosanya," tandasnya. (eks)