Padahal Samsung tercatat menjadi penguasa di markas Huawei dan Xiaomi tersebut baru lima tahun lalu dengan menguasai pangsa pasar sebesar 20 persen.
Kendati demikian tahun ini, angka itu turun jauh menjadi hanya satu persen. Samsung kalah dari merek lokal Xiaomi dan Huawei yang menawarkan harga miring.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasar ponsel pintar secara keseluruhan mengalami kesulitan karena melambatnya pertumbuhan. Samsung Electronics di Tianjing menargetkan untuk fokus pada kegiatan yang meningkatkan daya saing dan efisiensi," ujar Samsung dalam keterangan resmi kepada Reuters.
Dilansir dari CNet, penurunan pendapatan ini mencapai 22 persen pada kuartal kedua menjadi US$20,2 miliar atau sekitar Rp295,1 triliun. Penurunan ini ditandai dengan melambatnya permintaan ponsel Samsung terbaru yakni Galaxy S9 dan S9 Plus.
Lihat juga:Samsung Galaxy S7 Rentan Diretas |
Pada bulan lalu, Samsung membuka pabrik manufaktur terbesar di dunia yang berlokasi di pinggiran kota New Delhi, India. Pabrik didapuk menjadi manufaktur utama perangkat Samsung yang akan diekspor ke berbagai negara di dunia.
Menurut Electronic Times, pabrik Samsung di Tianjing memproduksi 36 juta ponsel per tahun dan pabrik di Huizhou menghasilkan 72 juta ponsel per tahun. Dua pabrik di Vietnam apabila digabungkan menghasilkan 240 juta unit per tahun. (reuters/evn)