Bot Diduga Punya Andil Dalam Perang Poling Capres di Twitter

Eka Santhika | CNN Indonesia
Rabu, 15 Aug 2018 08:22 WIB
Netizen dan pengamat menduga ada peran bot dalam perang poling capres yang banyak di gelar akun Twitter belakangan. Ilustrasi (REUTERS/Thomas White)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam beberapa hari terakhir pasca pengumuman pasangan Capres-Cawapres untuk Pilpres 2019, Twitter diwarnai oleh perang polling mengenai siapa pasangan capres pilihan netizen.

Kedua belah pihak saling menuding bahwa pihak lawan menggunakan bot untuk memenangkan polling yang banyak digelar oleh warganet itu.

Akun Tifatul Sembiring, anggota Majelis Syuro PKS sempat meneruskan tangkapan gambar dari berbagai polling yang dilakukan oleh akun-akun di Twitter. Hasilnya sebagian besar dimenangkan oleh pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno.





Sementara akun lainnya mempertanyakan hasil polling yang memenangkan Jokowi. Menurutnya jumlah orang yang mengikuti poling melebihi jumlah interaksi pada akun tersebut.

Jumlah interaksi sendiri menunjukkan jumlah orang yang melakukan aktivitas dari cuitan yang diposkan, baik mengikuti voting, menyukai cuitan, atau melakukan retweet. Sehingga agak sulit dipahami jika jumlah interaksi lebih sedikit dari total orang yang melakukan voting.



Pengguna lain mencatat bahwa jumlah voting untuk pasangan capres-cawapres Jokowi-Maruf meningkat pada detik-detik terakhir poling dilakukan.

Netizen lainnya ada yang mencatat blunder yang dilakukan akun pendukung pasangan Prabowo-Sandi. Sebab diasumsikan bot tersebut otomatis memilih nama Prabowo-Sandi untuk semua voting yang digelar.

Namun, pertanyaan yang diajukan bernada negatif dengan menanyakan siapakah pasangan Capres yang tidak akan dipilih dan pilihan tertinggi jatuh ke nama Prabowo-Sandi.



Akibat serangan yang diduga akibat bot ini, akun resmi NU yang sempat melakukan poling juga dibahas oleh netizen. Sebab, poling tersebut ternyata memenangkan Prabowo-Sandi ketimbang Jokowi-Maruf. Padahal Maruf sendiri adalah Rais 'Aam dari PBNU.



Netizen lain mencoba membuat poling dengan akun yang dikunci. Alasannya agar hasil poling tersebut tidak bisa disusuri dan diserang oleh bot yang diduga akan memberi suara bagi Prabowo-Sandi.



Beberapa netizen lain menduga bahwa bot bayaran ini dibeli dari layanan pihak ketiga. Hal ini juga diamini oleh pengamat media sosial dari Mafindo, Septiaji Eko Nugroho.

"Terjadinya 'perang' vote kadang memang menggunakan jasa layanan pembelian jumlah vote seperti di situs socialforming.com atau beberapa situs lainnya," jelasnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (14/8) malam.

Namun, dari penelusuran CNNIndonesia.com, hal ini agak sulit dilakukan. Karena jika pengguna ingin menggunakan layanan situs penyedia jualan bot voting itu, mereka mesti memasukkan tautan dari voting itu secara spesifik.

Sehingga jika memang mereka menggunakan layanan seperti ini, tetap saja menimbulkan ketidakpraktisan tersendiri karena mesti memasukkan tiap tautan secara manual. (eks/eks)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER