Menurutnya hal itu bisa terdeteksi ketika adanya kenaikan hasil pungutan suara yang tidak alamiah. Kenaikan tiba-tiba ini bisa dideteksi oleh si pembuat polling. Dalam waktu singkat, serangan robot voting dengan akun robot dilakukan pada saat yang sama.
"Jika tiba-tiba saja, dalam waktu singkat score perolehan salah satu pilihan dalam voting naik drastis, bisa diduga ada robot polling yang digunakan," jelasnya lewat tulisan di akun Facebook Selasa (15/8) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Twitter]
Jasa pemenangan 'polling'
"Banyak yang menyediakan jasa ini. Asal punya uang aja," jelasnya.
Ismail menjelaskan lebih lanjut cara kerja bot ini. Si penyedia jasa disebutnya memiliki peternakan bot yang memiliki puluhan ribu hingga ratusan ribu akun Twitter robot.
Ketika mereka melihat ada jajak pendapat Twitter, mereka akan mengerahkan akun-akun yang diternakkan ini untuk melalukan pilihan pada target.
Kubu yang tidak siap dengan robot dan hanya mengandalkan user natural, menurut Fahmi pasti akan kalah dalm perolehan suara. Sebab, mereka tak bisa ngejar dalam waktu beberapa menit saja.
Sebab, pengguna yang melakukan jajak pendapat secara alami hanya akan mengisi jajak pendapat sesuai waktu luang mereka saja. Sehingga tidak bisa dibuat cepat pada waktu yang sama.
"Mengikuti keluangan waktu user. Tapi kalau pakai robot, bisa sangat cepat" tandasnya. (eks)