Balada Biodiesel B20, Dibutuhkan tapi Dikeluhkan

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Rabu, 15/08/2018 16:54 WIB
Balada Biodiesel B20, Dibutuhkan tapi Dikeluhkan Ilustrasi. (Dok.Mike Blake)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aturan penggunaan biodisel B20 akan berlaku pada 1 September 2018. Kandungan dalam bahan bakar itu adalah 20 persen biodiesel dan 80 persen solar.

Pemerintah menjelaskan implementasi biodiesel B20 bisa mengurangi impor Solar sebanyak US$2,3 miliar hingga Desember mendatang. Namun kebijakan itu dianggap menimbulkan efek negatif, di mana cairan di dalamnnya disebut-sebut dapat merusak komponen mesin mobil penumpang, sebab mobil diesel yang beredar atau dipasarkan saat ini didesain tidak untuk 'meneguk' biodiesel B20.

Seperti dikatakan Head Dealer Technical Support PT Toyota-Astra Motor (TAM) Didi Ahadi bahwa mobil-mobil penumpang bermesin diesel yang 'dihantui' seperti Fortuner dan mobil sekelas yang telah menggunakan teknologi common-rail.
Untuk itu, lanjut Didi, mesin diesel spesifikasi tersebut harusnya 'menenggak' solar dengan kualitas yang baik, contohnya seperti Pertamina Dex. Dengan bahan bakar solar minim sulfur itu pembakaran pada ruang mesin diklaim akan lebih sempurna, lebih efisien, tenaga lebih besar, hingga emisi yang lebih baik.


"Memang disarankan solar yang bagus (contoh Dex). Jadi walau ada filter Solar, dengan Solar yang kurang baik akan menimbulkan jelaga yang dapat menyumbat sistem common-rail. Dalam kata lain dapat mengganggu sistem bahan bakar," kata Didi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/8).

Pernyataan Didi tidak sebanding dengan Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohanes Nangoi yang menyatakan bahwa penggunaan bahan bakar biodiesel B20 tidak akan memberi dampak negatif pada kendaraan mesin diesel, dengan syarat pemiliknya harus menguras tangki dan mengganti saringan bahan bakar lebih cepat dari biasanya.
Pihak lain yang mengeluhkan penggunaan B20 adalah BMW Group Indonesia. Pihak BMW mengkhawatirkan penggunaan campuran minyak nabati pada Solar dapat mereduksi kinerja mesin diesel BMW.

Vice President of Corporate Communication BMW Group Indonesia Jodie O'tania menyampaikan B20 sendiri bukanlah bahan bakar yang dianjurkan oleh pihak prinsipal BMW. Jodie menyadari ada dampak biodiesel B20 untuk mesin-mesin diesel BMW. Bahan bakar yang menjadi rekomendasi untuk konsumen dalam negeri adalah Solar rendah sulfur.

"Bisa (pakai B20), tapi berkaitan dengan kualitas mesin. Jadi itu kan juga dipengaruhi sama iklim di sini kondisi panas karena Indonesia negara tropis," ucap Jodie.
Lain APM, beda juga pandangan. Kepala Penjualan dan Pemasaran Grup Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Imam Choeru Cahya mengungkapkan bahwa pihaknya mendukung penggunaan biodisel B20.

Dari hasil uji internal MMKIS menggunakan Pajero Sport dan Triton, ternyata mereka tidak menemukan adanya masalah. Penggunaan B20 kemungkinan akan memperpendek usia filter bahan bakar dan masa servis kendaraan lebih cepat dari sebelumnya.

"Kami sudah melakukan pengetesan bahan bakar diesel B20 pada produk yang kami pasarkan dan sejauh ini kami tidak menemukan masalah signifikan. Jadi kesimpulannya kami support program B20 yang dicanangkan oleh pemerintah," tutup Imam. (mik)