Myanmar merupakan tempat paling 'berdarah' akibat ujaran kebencian yang menggila di Facebook. Ujaran kebencian di sana menjadi faktor pendukung terjadinya pembantaian etnis Rohingya.
"Kekerasan etnis di Myanmar mengerikan dan kami terlampau lambat untuk mencegah misinformasi dan ujaran kebencian di Facebook," demikian bunyi pernyataan resmi Facebook seperti dilansir dari Reuters, Kamis (16/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalah berikutnya adalah Facebook tak memiliki satu pun karyawan di Myanmar meski punya 18 juta pengguna. Mereka mengawasi konten melalui jasa pihak ketiga bernama The Honey Badger yang bermarkas di Kuala Lumpur. Cuma ada 60 orang di dalam tim pengawas tersebut.
Bagi sebagian besar penduduk Myanmar, Facebook adalah internet. Dari platform tersebut mereka mengakses informasi, hiburan, dan beragam konten lainnya.
Mereka juga berniat menambah 40 pakar bahasa Myanmar dari 60 orang yang sudah ada sebelumnya.
"Kami punya tanggung jawab melawan penyalahgunaan produk kami. Terutama di negara-negara seperti Myanmar di mana banyak orang menggunakan internet untuk pertama kalinya, dan Facebook dipakai untuk menyebar kebencian dan kekerasan," ujar juru bicara Facebook. (reuters/evn)