Raditya Dika Beberkan Kesulitan Produksi Konten Media Sosial

RBC, CNN Indonesia | Minggu, 02/09/2018 16:02 WIB
Raditya Dika membeberkan bahwa dirinya juga sempat kesulitan memproduksi konten untuk seluruh platform media sosial miliknya. Chief Creative Officer Penulis.id Raditya Dika (kiri) dan Chief Executive Officer Penulis.id Adhika Dwi Pramudita (kanan) (CNN Indonesia/Rebeca Joy Limardjo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penulis, komedian, dan artis Raditya Dika mengaku kesulitan dalam mempertahankan konsistensinya memproduksi konten yang berkualitas di berbagai platform digital seperti misalnya Instagram.

"Gue merasa dengan banyaknya platform yang ada, seperti Facebook, Instagram, dan lain-lain, waktunya nggak kepegang," kata pria yang akrab disapa Radit itu di kediamannya di daerah Jakarta Selatan, Jumat (31/8).

"Gue cuma punya idenya, tapi gue nggak punya waktunya untuk membuat itu jadi sebuah bentuk konten digital," lanjutnya.


Ia mengaku sempat mencari jasa yang menawarkan layanan untuk memproduksi konten di akun media sosial Instagram miliknya. Saat itulah ia menemukan Penulis.id, sebuah perusahaan rintisan (startup) content marketing yang saat ini bekerja sama dengannya.

Mulai Jumat kemarin (31/8), Radit telah secara resmi menjabat sebagai Chief Creative Officer di Penulis.id. Melalui perannya itu, ia berharap bisa membantu berbagai pihak dalam membangun citra dan memproduksi konten di berbagai platform digital, khususnya media sosial.

"Banyak banget teman-teman, terutama teman-teman public figure yang pengin bikin konten di Instagram, di YouTube, di sosial media mereka, tapi nggak tahu gimana cara buatnya," tutur Radit.

Chief Executive Officer Penulis.id Adhika Dwi Pramudita menjelaskan bahwa perusahaannya menawarkan jasa pembuatan berbagai jenis konten yang diperlukan oleh sebuah merek. Beberapa di antaranya meliputi konten media sosial, artikel untuk situs, video untuk diunggah di platform Youtube, hingga siaran pers.

Ia mengklaim bahwa saat ini, 70 persen dari semua kliennya adalah perusahaan startup, khususnya di bidang teknologi. Sedangkan, 30 persen sisanya adalah sejumlah perusahaan dan merek berskala nasional.

"Karena startup lebih aware dengan kebutuhan konten digital daripada brand besar. Walaupun sekarang brand besar sudah mulai picking up. Jadi mereka mulai sadar, kalau nggak 'berantem' di digital, mereka akan 'dibunuh' oleh startup," jelas Adhika.

Lebih lanjut, ia menyebut sejak Penulis.id berdiri pada tahun 2014 pertumbuhan pendapatannya selalu naik minimal dua kali lipat pertahun, dan startup ini sudah mengalami break even point dua tahun lalu.

Dengan bergabungnya Radit sebagai CCO, Adhika berharap pendapatan Penulis.id dapat bertumbuh lebih cepat, yakni lima kali lipat dalam waktu dua tahun.

"Saya ngomong ke mas Radit, dalam dua tahun target kita tumbuh lima kali lipat. Mas Radit ini malah lebih optimis dari saya, dia yakin dalam empat bulan kita tumbuh lima kali lipat," tuturnya. (eks/eks)