Pasar e-Commerce Indonesia Masih Tahap Edukasi

JNP, CNN Indonesia | Selasa, 04/09/2018 01:59 WIB
Pasar e-Commerce Indonesia Masih Tahap Edukasi Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tokopedia, Lazada, dan Shopee memandang pasar e-Commerce di Indonesia masih dalam tahap edukasi. Pasalnya, masih banyak masyarakat di berbagai daerah yang belum terbiasa untuk melakukan belanja daring.

Digital Marketing Senior Lead Igor Irendi memandang edukasi masyarakat ini merupakan tantangan bagi para pelaku e-Commerce di Indonesia. Edukasi,menurut Igor, akan meningkatkan jumlah transaksi e-Commerce dan pertumbuhan literasi digital.

"Yang menjadi tantangan Tokped adalah edukasi konsumen agar masyarakat terbiasa belanja online. Masyarakat masih ada yang belum terbiasa belanja online," ujar Igor di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Senin (3/9).
Igor mengatakan persaingan antara pelaku e-Commerce untuk menjadi pilihan masyarakat bisa mempercepat penetrasi e-Commerce. Igor mengatakan saat ini Tokopedia sudah menjangkau 93 persen kecamatan di Indonesia.


"Seluruh pemain e-Commerce bisa bantu edukasi itu. Dengan adanya pemain itu percepat pertumbuhan masyarakat untuk belanja online dan penetrasi yang lebih cepat," ujar Igor.

Dalam kesempatan yang sama Country Brand Manager Shopee Indonesia Rezky Yanuar mengatakan edukasi ini dilakukan dengan berbagai inovasi yang ditawarkan oleh para e-Commerce. Inovasi ini dilakukan agar masyarakat semakin mengenal belanja online.

Rezky mengatakan inovasi di Shopee difokuskan untuk meningkatkan ikatan dengan konsumen. Inovasi yang meningkatkan ikatan ini menurut Rezky penting agar mengesankan masyarakat.
"Yang dilakukan adalah terus inovasi, itu core. Tidak hanya produk tapi di semua sektor. Jadi ketika orang datang ke Shopee nanti ada rasa yang luar biasa. Misalnya goyang Shopee dan adu suit dengan key opinion leader (KOL). Hubungan orang dan aplikasi ini bisa lebih, " ujar Rezky.

Selain edukasi, Chief Marketing Officer, Lazada Indonesia Achmad Alkatiri juga mengingatkan soal pemerataan untuk mendorong masyarakat digital. Pemerataan dalam hal ini adalah meratanya akses masyarakat terhadap produk yang hendak ia beli.

Pemerataan ini berhubungan dengan harga ongkos kirim yang mahal untuk masyarakat di daerah daerah pinggiran. Kecepatan kedatangan barang juga menjadi masalah dalam pemerataan akses ini.

"Masalah Indonesia utama adalah tidak merata. Kami punya lima gudang di Indonesia untuk pengiriman yang lebih mudah dan cepat. Jadi tidak perlu lagi kirim dari Jakarta, tinggal kirim dari Makassar untuk yang di Ambon . Jadi waktu kirim kurang dan ongkir juga lebih murah, " kata Achmad. (age/age)