Riset ini mengacu pada debat presiden Amerika Serikat tahun 2016, akun palsu memiliki pengaruh 2,5 kali lebih besar daripada akun miliki seseorang.
Penelitian ini berdasarkan analisis pada 6,4 juta cuitan yang diposting dalam durasi 90 menit selama proses debat televisi pertama antara Donald Trump dan Hilary Clinton. Dari 1,5 juta akun yang aktif selama periode tersebut, hanya 4,8 persen yang teridentifikas "jelas" sebagai bot.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akun bot Twitter ditemukan para peneliti lebih terlibat dalam mengubah pandangan politik warga Amerika Serikat untuk mendukung partai Republik yang notabene merupakan partai pendukung Trump.
Lihat juga:Jokowi Restui Goviet Mengaspal di Vietnam |
Oleh karena itu muncul pertanyaan apakah Trump menang pemilu 2016 karena bot. Graham mengatakan meskipun hasil penelitiannya kuat, ia berhati-hati untuk mengambil kesimpulan berdasarkan sampel 90 menit aktivitas Twitter yang diklaim sangat kecil.
(jpt/evn)