Menanggapi hal ini, managing director Grab Indonesia Ridzky Kramadibrata meyakini bahwa kenaikan tarif dasar bukanlah solusi, karena hanya akan mengurangi jumlah pelanggan dari jasa ride-hailing.
Ridzky mengatakan pihaknya telah melakukan survei terhadap sejumlah pelanggan ojek online, dan sebagian besar di antara mereka mengaku tidak mau lagi menggunakan jasa ojek online jika tarifnya naik dua kali lipat dari saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Grab Siap Temui Para Pendemo Ojek Online |
Ia menjelaskan, untuk urusan penetapan tarif, Grab menggunakan algoritme supply-demand alias penawaran-permintaan. Pihak Grab percaya bahwa algoritma ini merupakan metode terbaik yang menguntungkan semua pihak.
"Itu metode terbaik yang menguntungkan tiga pihak [yakni] penumpang sehingga tarifnya terjangkau, pengemudi karena bisa memaksimalkan penghasilannya dan untuk Grab."
Selain meminta kenaikan tarif dasar, para peserta unjuk rasa juga menuntut keadilan dan transparansi perjanjian antara aplikator dan mitra pengemudi, serta menuntut aplikator untuk menghilangkan potongan komisi sebesar 20 persen. (rbc/evn)