Aturan Main Bongkar Pasang VW Kodok Sampai Laik 'Nampang'

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 20/09/2018 13:03 WIB
Aturan Main Bongkar Pasang VW Kodok Sampai Laik 'Nampang' Pertunjukan VW klasik. (Foto: REUTERS/Akhtar Soomro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Entah sudah berapa VW Kodok' atau sebutan resminya Volkswagen Beetle ia dandani. Mulai bongkar pasang mesin, pengecekan kelistrikan, atau hanya sekadar butuh sentuhan ringan sudah sering Ari Suswanto lakukan.

Ari merupakan salah satu mekanik di Fantastis Garas, bengkel spesialis Volkswagen yang beroperasi di daerah Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Tempat singgah buat perawatan mobil-mobil merek Jerman ini menjadi salah satu refrensi kuat para pemilik yang berada di Jakarta dan Bandung.

Menurut Ari merawat VW, terutama di sektor mesin, susah-susah gampang. Hal terpenting yang perlu dipahami mekanik paham pakem perawatan atau modifikasi
.


"Kalau buat perawatan ya bisa dibilang sulit, tapi ya tidak juga. Makanya kebanyakan kami itu mekanik jangan pernah lari dari pakem VW," kata Ari saat berbincang dengan CNNIndonesia.com Selasa (18/9).


Mesin Berisik

Ia memberi contoh misalnya saja pemilik VW kodok ingin meningkatkan kapasitas mesin dari semula 1.300cc ke 1.600cc. Ari menjelaskan mekanik harus telaten dan jeli saat pemasangan komponen agar tidak menimbulkan masalah yang lain.

Bila tidak sesuai, mesin bakal mengeluarkan bunyi aneh setelah temperatur naik.

"Jadi VW itu yang harus diperhatikan timing gear, chamshaft. Jadi misal itu timing gear tidak cocok maka timbul bunyi, klep juga begitu," ujar Ari.

Pakem yang dibicarakan Ari berkaitan dengan toleransi ukuran komponen jika ingin diganti. Menurut Ari, acuan pakem soal mesin VW dapat dilihat di buku manual. 

"Jadi di buku manual ada, jadi contoh setang seher (setang piston), kiri-kanan rongganya harus nol koma sekian. Nah kalau lewat atau kurang, pukulannya akan goyang setelah putaran tinggi. Hitungannya ada di buku manual semua dan wajib diikuti," jelas Ari.


Onderdil Orisinal dan 'KW'

Mengingat VW kodok adalah mobil gaek, ternyata komponen-komponen pengganti tidak dapat diperoleh dari bengkel resmi. Kata Ari onderdil yang diinginkan biasa didapat dari toko-toko suku cadang khusus kendaraan lawas.

Onderdil yang dipercaya atau orisinal disebut buatan Jerman dan Brasil. Sementara sisanya adalah produk tiruan dengan cap 'Made in Mexico'. Onderdil-onderdil itu disebut masih mudah ditemui di Bandung dan Jakarta.

"Kalau onderdil itu sebetulnya tidak ada yang barang 'KW', cuma kalau ditanya bilangnya dari Meksiko. Dan kalau onderdil orisinal kan pasti lebih mahal," ucap Ari.

Namun uniknya, ia menyampaikan walau sudah memakai onderdil orisinal asal Brazil dan Jerman, jika mekanik tidak teliti atau bekerja di luar pakem, mesin tetap akan bermasalah.

"Tergantung mekanik menjalankan modifikasi sesuai pakem atau tidak karena semua VW ada panduannya. Itulah mesin VW,  (kalau) kita tidak ikuti ya risiko mesin berisik," ujar Ari.


Ilustrasi kepemilikan mobil VW. (Foto: REUTERS/Tiksa Negeri)

Biaya Restorasi

Merestorasi VW kodok dari yang berstatus 'bahan' hingga layak diajak jalan-jalan diakui membutuhkan biaya tidak sedikit. Bahkan uang restorasi terkadang lebih tinggi dari beli 'bahan'.

Salah satu pengguna VW kodok tipe 1303 buatan 1974, Wisnu Rahadi, yang juga menjabat sebagai ketua Frogs Bread Club, menjelaskan, dia sampai harus mengeluarkan biaya hingga Rp40 juta untuk mendandani mobilnya.

Sementara Widitya Prayudi atau Didiet, pengguna VW kodok tipe 1200 Beetle racikan 1963, mengungkap, dari kondisi 'bahan' sampai asyik dipakai untuk keluyuran, pemilik VW harus menyiapkan dana di atas Rp25 juta.

Pada umumnya, modifikasi buat VW kodok meliputi ke sektor mesin dan memasang AC di kabin. Maklum saat diproduksi pada zamannya, sistem penyejuk udara bukan fitur utama.

"Ya makanya modifikasi juga tergantung bagaimana kondisi bahan, antara Rp25 juta sampai Rp100 juta. Sampai Rp200 juta buat modifikasi juga ada, nah itu sesuaikan kepada budget juga," kata Didiet.


Biaya Perawatan 

Namun beda dari restorasi, ternyata dalam perawatan VW kodok tidak perlu sampai merogoh kocek dalam-dalam.

"Perawatan ya tidak banyak, toh rata-rata pengguna VW kodok mobilnya tidak dipakai harian. Jadi seperti busi kotor bisa bongkar sendiri atau panggil montir buat tune up sekitar Rp150 ribu," kata Didiet anggota Frogs Bread Club itu.

Perawatan murah meriah juga dibenarkan Gatot Purnama, anggota komunitas penggemar VW Kodok lainnya, Indonesia Pre67 Beetle.

"Untuk perawatan VW klasik cukup murah, dua bulan sekali ganti oli tiga liter, ganti busi empat enam bulan sekali, cek kaki-kaki dan selang-selang bensin rata-rata satu tahun sekali," sebut Gatot.

"Tune up kadang bisa sendiri, kalau sedang malas minta tolong mekanik dengan jasa kurang lebih Rp200 ribu-  Rp250 ribu. Kalau dihitung per bulan perawatan mungkin hanya keluar Rp150 ribu  (ryh/fea)




BACA JUGA