LIPI: Patahan Bawah Laut Jadi Penyebab Tsunami Palu

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 02/10/2018 17:42 WIB
LIPI: Patahan Bawah Laut Jadi Penyebab Tsunami Palu Kondisi pesisir Pantai Talise pasca gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti Geofisika Kelautan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nugroho Dwi Hananto mengatakan tsunami pascagempa yang terjadi di Sulawesi Tengah disebabkan sesar Palu-Koro memiliki komponen deformasi vertikal di dasar laut.

Nugroho mengatakan Teluk Palu juga memiliki geomorfologi yang unik. Pasalnya daerah teluk ini memiliki bentuk yang sangat curam. Sehingga gelombang Tsunami bisa berdampak lebih parah.

"Kawasan Teluk Palu hingga Donggala juga mempunyai bentuk mirip kanal tertutup dengan bentuk dasar laut yang curam. Akibatnya jika ada massa air laut datang, gelombangnya lebih tinggi dan kecepatannya lebih cepat," jelas Nugroho.
Nugroho mengatakan bentuk geomorfologi akan mengamplifikasi dampak Tsunami. Fenomena ini merupakan hal yang baru dalam bencana tsunami, pasalnya sesar mendatar ternyata bisa mengakibatkan Tsunami.

Nugroho juga berasumsi kemungkinan longsor bawah laut akibat tebing bawah laut runtuh karena gempa. Sehingga runtuhnya tebing ini juga bisa mengakibatkan tsunami.


"Kondisi Geomorfologi yang curam dam tipe batu yang tidak terkonsolidasi mungkinkan terjadinya longsor tebing laut," tutur Nugroho.
Masih rancunya penyebab tsunami ini dianggap Nugroho agar peneliti bisa memiliki alat-alat yang mampu memetakan dasar laut. Indonesia ia sebut perlu studi geosains kelautan yang selama ini sulit.

Kesulitan ini terjadi karena faktor infrastruktur, sumber daya manusia dan biaya.

"Gempa dan tsunami Palu menjadi pelajaran penting perlunya data geo-sains yang lebih lengkap untuk bisa mengkaji potensi terjadinya gempa yang sumbernya berasal dari bawah laut," pungkasnya
Oleh karena itu, Nugroho menyebut pemahaman terbaru tentang sesar yang bisa mengakibatkan Tsunami juga bisa mengubah SOP dan early warning system terhadap Tsunami.

Pemerintah saat ini memerlukan kebijakan untuk bersama-sama dengan instansi terkait demi kebutuhan pengetahuan. Sehingga bisa memerlukan regulasi terkait mitigasi bencana.

"Pemahaman kita terhadap sesar mendatar bisa akibatkan gempa bisa berubah SOP untuk ditingkatkan early warning system. Kita harus perhatikan kota kota serupa dengan palu yang curam, dan teluk dalam, kalau perlu kita pasang sensor tinggi permukaan laut," kata Nugroho. (jnp/age)