"Pembuatan mobil Esemka merupakan transfer teknologi, ketika itu, para siswa yang lulus dari SMK dilatih untuk membuat sparepart (suku cadang) untuk mobil Esemka pada 2011," kata Hadi Rudyatmo, di Solo, Rabu (24/10).
Menurut Rudyatmo dengan adanya transfer teknologi tersebut tujuan utamanya memang ingin membuat mobil nasional atau mobil rakyat yang harganya bisa terjangkau. Meskipun, Esemka harganya lebih murah, kualitasnya harus terjamin sehingga tidak kalah dengan mobil merek Jepang yang banyak beredar di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Jokowi: Apa Urusan Saya dengan Esemka? |
Dirinya ketika itu, mengemudikan sendiri saat melakukan uji emisi ke Jakarta dan dilakukan dua kali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Esemka akhirnya dinyatakan lulus uji emisi oleh BTMP BPPT Serpong pada Agustus 2012 dan satu bulan kemudian diperbolehkan masuk produksi setelah Kemenhub mengeluarkan Sertifikat Registrasi Uji Tipe Kendaraan Bermotor Nomor SK 3896/AJ.402/DRJD/2012.
Ada dua tipe yang boleh diproduksi, yaitu Esemka Rajawali model SUV dan model pikap Esemka Bima. Saat itu, Esemka kian pun menuai pro dan kontra dari masyarakat luas. Namun, atas nama anak bangsa, Jokowi yang saat itu sebagai pejabat negara mantap dengan pendiriannya, yaitu membawa Esemka ke industri otomotif yang lebih besar lagi.