Dilansir dari AFP, Topam Super Haiyan menjadi badai paling mematikan di Filipina. Mari mengenal lebih dekat badai yang meluluh lantakan Filipina lima tahun lalu. AFP menuliskan ada lima fakta dan penyebab yang membuat badai mematikan ini menyebabkan ribuan orang tewas.
Badai Terkuat
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:VIDEO: Kenali Beda Siklon, Topan dan Hurikan |
Jika ditotal, Haiyan merobek sekelompok pulau dengan luas gabungan sebesar Portugal.
Selain kekuatan Topan Super Haiyan, letak geografis Filipina pun menjadi salah satu faktor. Filipina adalah daratan besar pertama di Samudera Pasifik. Sebagian dinding pegunungan di pantai utama Pulau Luzon dapat mengimbangi atau menahan beberapa pukulan topan. Namun, pulau yang lebih kecil dan datar tak kuat menahan.
Peringatan yang Tidak Memadai
Meskipun daerah yang paling terpukul menerima peringatan dini, namun layanan cuaca dan pejabat mengakui bahwa para korban tidak terbiasa dengan istilah "gelombang badai".
Gelombang badai mematikan terakhir di Tacloban terjadi pada 1887, lebih dari satu abad sebelum Haiyan. Di sebuah negara dengan sejumlah bahasa daerah, pemerintah juga tidak memiliki persyaratan lokal untuk dapat mengkomunikasikan fenomena itu kepada semua orang.
Kemiskinan Ekstrem
Di sebuah negara, di mana satu dari lima orang berpenghasilan kurang dari dua dolar sehari, membuat para orang membangun rumah mereka di dataran pantai yang sempit. Masyarakat pun hidup dari memancing ikan dan bertani.
Haiyan menghancurkan atau merusak 1,14 juta rumah, banyak dari mereka terbuat dari bahan-bahan murah dan tipis yang tidak memiliki peluang melawan 'kemarahan alam'.
Pemerintah nasional Filipina melalui program pemetaan geohazard yang dimulai pada 2006, telah menandai sebagian besar wilayah yang rawan terhadap dampak bencana alam.
Namun, pemerintah daerah gagal mengevakuasi banyak penduduk yang rentan dari zona bahaya. Sebagian karena mereka tidak sepenuhnya memahami ancaman dan sebagian lagi karena mereka tidak membangun cukup tempat perlindungan.
Di kota Hernani di pulau Samar, di mana Topan Super Haiyan pertama 'mendarat', beberapa keluarga tersapu oleh gelombang badai ketika mereka meninggalkan gubuk tipis mereka. (age)