"Yang menyerang paling banyak itu dari China dan Amerika, itu di luar menggunakan proxy palsu untuk menyembunyikan alamat IP (sebenarnya)," kata Kepala Pusat Pertahanan Siber Kementerian Pertahanan Marsekal Pertama Raja Manalu di sela-sela acara Indo Defence di Jiexpo, Jakarta Pusat, Rabu (7/11).
Raja yakin saat peretas beraksi pasti mengelabui sasarannya dengan memalsukan alamat IP mereka. Ia menyebut tak mungkin peretas memberikan alamat identitas IP mereka dengan cuma-cuma.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Raja mengakui perang dengan para peretas di dunia digital ini tidak akan habisnya. Para peretas ini selalu berkembang dengan menggunakan aplikasi yang berkembang.
"Perang siber itu seperti kita itu kejar-kejaran dan dengan hacker dengan selalu ada teknologi dan virus baru," kata Raja. (jnp/eks)