Cara Menggambar Lukisan Figuratif Tua di Gua Saat Zaman Es

CNN Indonesia | Sabtu, 10/11/2018 22:21 WIB
Cara Menggambar Lukisan Figuratif Tua di Gua Saat Zaman Es Ilustrasi. (Arkenas/Kinez Riza)
Jakarta, CNN Indonesia -- Belum lama ini, penelitian kolaboratif yang dilakukan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (ARKENAS), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Griffith University, Australia memublikasikan penemuan lukisan hewan abstrak yang menggunakan batu cadas sebagai medium di Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur.

Usianya diperkirakan antara 40 ribu -52 ribu tahun dan hingga saat ini merupakan yang tertua di dunia. Bagaimana manusia 40 ribu tahun lalu menggambar lukisan tersebut?

Arkeolog Universitas Indonesia Cecep Eka Permana menjelaskan ada beberapa metode yang dilakukan manusia 40 ribu tahun lalu, atau manusia di akhir zaman es, untuk menggambar di atas batu cadas.



"Kalau warnanya itu menggunakan oker. Jenis batuan warnanya merah lalu digerus. Lalu dipanaskan, diletakkan di dalam wadah seperti itu kemudian dicampur air, dan lemak-lemak tertentu (nah ini masih dalam penelitian persisnya) jadi kayak menjadi cairan. Kemudian disemprotkan atau ditiupkan di atas tangan. Yang tertutup itu akan menjadi stensil," jelasnya.

Stensil juga dibuat dengan cara menyemburkan pewarna melalui mulut. Bisa menggunakan alat atau mulut hewan, atau mulut pelukis sendiri.

Selain menyemprotkan cairan, manusia di zaman itu juga sudah mengenal kuas sederhana yang terbuat dari daun. Kuas itu kemudian diusap-usapkan hingga membentuk gambar tertentu.


Di Kalimantan Timur, beberapa gambar berbentuk hewan abstrak seperti banteng hingga tapir ditemukan berwarna merah dan ungu. Lukisan banteng yang berusia paling tua berwarna merah ditemukan di Lubang Jerijih Saleh, Kalimantan Timur.

Sementara itu, jurnal yang ditulis Bambang Sugiyanto dari Balai Arkeologi Kalimantan Selatan mengenai 'Rock-Art Kalimantan Timur: Jenis Gambar dan Waktu Pembuatannya' menjelaskan bahwa jenis gambar pada budaya rock-art Kalimantan Timur secara umum termasuk dalam bentuk lukisan (painting), gambar (drawing), dan cetakan (stencilling/ printing). Namun, didominasi stensil telapak tangan negatif.

"Telapak tangan merupakan jenis gambar yang paling dominan di kawasan situs ini, dengan berbagai bentuk dan variasinya," tulis Bambang dalam abstrak jurnalnya pada 2016 silam.

Bambang juga menulis, berdasarkan pengamatannya tentang jenis gambar tambahan yang ada di dalam gambar telapak tangan negatif di Kalimantan Timur, diperkirakan gambar-gambar inilah yang mendorong munculnya budaya penggambaran anggota tubuh (tatto) pada masyarakat Dayak di Kalimantan Timur khususnya dan Kalimantan pada umumnya.

(kst)