Ponsel Pintar Jadi Pedang Bermata Dua untuk Teroris

AFP, CNN Indonesia | Kamis, 15/11/2018 12:50 WIB
Ponsel Pintar Jadi Pedang Bermata Dua untuk Teroris Ilustrasi (Reuters/Christian Hartmann)
Jakarta, CNN Indonesia -- Era digital tak dibutuhkan pedang atau alat tajam untuk melukai. Sebuah ponsel pintar pun bisa dijadikan senjata mematikan di tangan teroris.

Dilansir dari AFP, tiga tahun lalu hingga hari ini, serangan Paris pada 13 November 2015 tetap menjadi salah satu contoh paling terkenal dari serangan berskala besar yang tidak mungkin direncanakan tanpa ponsel.

Kelompok-kelompok bersenjata dan pembom negara Islam yang menyerang gedung konser Bataclan dan tempat-tempat kehidupan malam lainnya menggunakan ponsel pintar secara ekstensif untuk mengkoordinasikan pembantaian.


Hal ini dikisahkan oleh seorang mantan pejabat anti-teroris Perancis yang tak ingin disebut namanya.

Sebelum ISIS memasuki Bataclan, di mana mereka membantai 90 orang, para penyerang telah mengirim pesan teks ke kaki tangan di Belgia:

"Kami akan maju. Ini dimulai."

Ketika smartphone telah menjadikan senjata, penggunaan oleh ekstremis di dunia jauh lebih maju daripada serangan Paris.

"Pada 2003, di Irak, bom-bom buatan mulai dilepas karena pengiriman SMS ketika konvoi Amerika lewat. Hal ini tertangkap dan kemudian berulang kali digunakan oleh Al-Qaeda," kata mantan pejabat itu kepada AFP.

Saat ini, aplikasi terenkripsi seperti Telegram, Wire, dan WhatsApp dapat membantu jihadis berkomunikasi saat menghindari pelacakan polisi, atau setidaknya mempersulit upaya untuk memecahkan kode pesan mereka.

Selama beberapa tahun ISIS telah menerbitkan tutorial online dalam beberapa bahasa yang menjelaskan kepada para jihadis bagaimana memilih perangkat lunak terbaik untuk menghindari deteksi di zona perang.

Untuk rekrutan baru di negara berkembang, di mana smartphone lebih umum daripada komputer, masih ada strategi yang berbeda.

"Telepon bukan lagi telepon, itu komputer," kata Laurent Heslault, Direktur Strategi Keamanan di Symantec, sebuah kelompok keamanan.

"Mereka jauh lebih kuat daripada apa yang kami miliki di meja kami 10 tahun lalu," tambahnya.

"Mereka memiliki lebih banyak daya komputasi, lebih banyak memori dan kemampuan koneksi. Mereka sangat kuat ketika berkomunikasi."

Komunikasi canggih juga mempermudah kelompok-kelompok jihadis untuk merekrut anggota baru. Ponsel pintar memungkinkan orang menjangkau propaganda dengan sapuan layar, kata pensiunan pejabat itu.

"Tiga puluh tahun yang lalu, orang-orang biasa menukarkan kaset video, lalu itu CD. Sekarang online dan bisa dicari kapan saja."

Untuk pembuat propaganda, video serangan dapat difilmkan dan diunggah dalam sekejap mata.

"Anda dapat memfilmkan serangan, mengklaim tanggung jawab, menggunakan (telepon) untuk mengambil foto dan memfilmkan operasi pengintaian," kata mantan pejabat itu.

Tetapi smartphone dapat menjadi penghancur ekstremis dan juga aset terbaik mereka.

Agen intelijen telah tumbuh lebih baik dalam menggunakan ponsel untuk mengidentifikasi tersangka, memata-matai mereka dan dalam kasus penangkapan, mengangkat data untuk digunakan sebagai bukti di pengadilan.

Dari sisi lain, kemudahan identifikasi itu menimbulkan pertanyaan sulit bagi raksasa teknologi yang menjanjikan privasi penggunanya.

Yang paling terkenal, Apple menghadapi perselisihan pengadilan dengan FBI setelah agen mencari akses data para penyerang yang menewaskan 14 orang di San Bernardino, California, pada Desember 2015.

Para penyelidik melepaskan kasus ini setelah menemukan akses ke telepon tanpa bantuan dari Apple, yang berpendapat bahwa membantu pihak berwenang mengakses telepon akan menjadi preseden yang berbahaya.

Lebih jauh lagi, pemerintah telah menggunakan data telepon secara ekstensif untuk menunjukkan tersangka ekstremis.

Intervensi militer Prancis di Mali, diluncurkan pada 2013 setelah para jihadis mengambil alih bagian utara negara itu, dimulai dengan serangan udara yang targetnya dipilih berdasarkan data telepon.

"Hari ini semua serangan udara fokus pada telepon," tambah mantan pejabat tersebut.

"Bahkan jika Anda terus mengubah kartu SIM, ponsel memiliki identitasnya sendiri dan sekali terdeteksi dapat terus dilacak."

Ketika datang ke penyelidikan polisi, smartphone terkadang memberikan lebih banyak informasi daripada pemiliknya.

"Ponsel pintar menjadikan Anda target," kata pakar itu.

"Karena para pemimpin jihadis ini telah belajar untuk menjauh dari mereka. Selama beberapa tahun terakhir, sudah ada tanda-tanda kembali menggunakan utusan manusia," tambahnya. (age/eks)