Ghosn Dinilai Kerap Abaikan Norma Masyarakat Jepang

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 20/11/2018 20:10 WIB
Ghosn Dinilai Kerap Abaikan Norma Masyarakat Jepang Carlos Ghosn. (Foto: Albert Gea)
Jakarta, CNN Indonesia -- Carlos Ghosn merupakan orang penting di Nissan, yang juga berperan sebagai bos besar bagi aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi.

Pria yang akrab disapa Ghosn lahir di Porto Velho, Brasil, pada 9 Maret 1954. Ghosn mulai menapaki karirnya di dunia otomotif dengan bekerja di Michelin, sebuah produsen ban asal Prancis.

Pendekatan radikal Ghosn merestrukturisasi Renault hingga menjadikan perusahaan yang mendapatkan laba berlipat, membuatnya mendapatkan julukan "Le Cost Killer".



Pada tahun 1996, Ghosn mulai mengurusi Renault. Renault kemudian membeli saham Nissan pada 1999. Usai 'menyelamatkan' Nissan, Ghosn mendapatkan julukan "Mr. Fix It"

Tujuh tahun kemudian, Ghosn yang memimpin aliansi Renault-Nissan juga 'menyelamatkan' Mitsubishi setelah diketahui melanggar regulasi di Jepang terkait angka efisiensi kendaraan.

Namun pekan ini, Senin (19/11), Carlos Ghosn ditangkap oleh pihak berwenang Tokyo. Ghosn dituduh telah melakukan pelanggaran fatal, salah satunya adalah penyalahgunaan aset perusahaan untuk kepentingan pribadi.

"Ia memang mengatakan hal-hal yang benar dan masuk akal, namun semuanya berujung pada persoalan uang," ujar seorang pegawai Nisan, seperti yang dikutip dari AFP, Selasa (20/11).


Atas tindakannya ini, sebuah media Jepang menyebutnya si tamak Ghosn.

Seorang peneliti isu-isu Asia di Temple University, Jeff Kingston, menuturkan Ghosn adalah korban dari kesuksesan sekaligus kesombongannya.

Menurutnya, Ghosn memperlakukan dirinya layaknya orang penting dalam kultur Jepang.

"Ia menginjak-injak norma dan etika masyarakat Jepang, dengan gayanya yang flamboyan," ujar Jeff.

Bagi masyarakat Jepang, skandal di sebuah perusahaan bukanlah hal yang baru. Namun untuk kasus penyalahgunaan aset perusahaan untuk kepentingan pribadi, seperti yang dilakukan Ghosn, adalah hal yang tidak bisa dimaafkan.

Akibat penangakapannya ini tak hanya mayarakat Jepang yang merasa geram, Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire menegaskan Carlos Ghosn tidak boleh memegang tanggung jawab atas Renault.

Bruno Le Maire bahkan meminta manajemen Renault untuk menggelar pertemuan segera mungkin untuk menunjuk ketua dan kepala eksekutif yang baru.

(agr/vws)