Pesawat Berbahan Bakar Molekul Udara Diuji

CNN Indonesia | Jumat, 23/11/2018 02:50 WIB
Pesawat Berbahan Bakar Molekul Udara Diuji Ilustrasi (danist soh)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesawat terbang masuk ke era teknologi baru. Para peneliti baruu saja menguji pesawat super senyap lantaran tidak memiliki bagian yang bergerak dan ditenagai oleh molekul udara, Rabu (21/11).

Pesawat terbang solid state ini diperkenalkan lebih satu abad kemudian sejak Wright bersaudara menerbangkan pesawat mereka. Pesawat ini bisa jadi membawa era baru di dunia penerbangan yang bebas emisi.

Sejak pertama kali diperkenalkan pada 1903 oleh Wright bersaudara, pesawat selalu digerakan oleh baling-baling atau jet. Kedua mesin ini mesti membakar bahan bakar minyak agar menciptakan daya dorong dan mengangkat pesawat.


Sekelompok ahli dari Institut Teknologi Massachusetts berhasil menciptakan proses baru yang disebut elektroaerodinamika. Sebelumnya proses ini tak pernah dilihat sebagai alternatif untuk menjalankan pesawat.

Dengan teknologi ini, mereka mampu menerbangkan pesawat baru, dengan lebar sayap lima meter, panjang 55 meter dan dengan kecepatan 4,8 meter per detik.

Kecepatan pesawat ini memang masih terlalu lambat, tapi ini adalah terobosan penting yang belum pernah ada sebelumnya.

"Masa depan penerbangan bukan lagi pada hal-hal seperti baling-baling dan turbin," kata Steven Barrett, perancang prototipe pesawat itu, seperti dikutip AFP.

"Tapi akan mirip dengan apa yang kamu lihat di Star Trek, semacam cahaya biru dan sesuatu yang diam-diam meluncur di udara."

Tapi pesawat itu memang tidak tampak begitu canggih dari pesawat anyar lainnya. Modelnya tidak seperti pesawat Solar Impact II yang diperkenalkan pada 2015-2016. Pesawat ini menggunakan tenaga matahari untuk terbang di seluruh dunia.

Berbeda dengan Solar Impact, pesawat Barrett tidak memiliki baling-baling atau panel surya. Pesawat ini juga tak memiliki bagian apa pun yang bisa dipindah-pindahkan. Pesawat ini juga tak memiliki mesin, tapi digantikan oleh sistem yang terdiri dari dua bagian utama.

Di bagian depan pesawat duduk serangkaian elektroda paralel yang terbuat dari kabel ringan yang menghasilkan tegangan sangat besar sekitar (+) 20.000 volt. Alat ini melakukan supercharging udara di sekitarnya dan memisahkan molekul nitrogen bermuatan negatif yang dikenal sebagai ion.

Di bagian belakang pesawat terdapat deretan aerofoil yang disetel ke muatan negatif (-) 20.000 volt. Ion secara otomatis bergerak dari muatan positif ke negatif, menyeret pesawat dengan partikel udara yang menciptakan apa yang disebut "angin ion" untuk mengangkat pesawat.

Teknologi untuk membuat angin ion ini bukan hal baru. Teknologi ini diperkenalkan pada 1960, tapi tak pernah terpikirkan kalau hal ini bisa diaplikasikkan untuk bidang aeronautik.

Ke depannya, teknologi ini diperkirakan bisa membuat pesawat yang lebih cepat, lebih senyap, dan lebih ramah lingkungan.

Tapi tim ini masih belum mengukur batasan dari teknologi ini. Mereka juga meragukan bahwa teknologi ini bisa digunakan untuk mengangkut manusia dalam waktu dekat. (eks/eks)