Dokumen itu merupakan email yang ditulis Mark Zuckerberg pada 2012. Dalam surel (surat elektronik) itu, Zuckerberg mengusulkan agar Facebook segera mencari model bisnis baru. Diskusi ini terdapat di surel yang dikirimkan kepada eksekutif utama mereka pada 2.54 dini hari pada 19 November 2012. Surel ini berisi pemikirannya mengenai model bisnis Facebook.
Surel yang dikirimkan di antara para petinggi Facebook itu menyatakan bahwa mereka akan mengenakan tarif kepada pengembang yang ingin memanfaatkan data pengguna. Sesuatu yang diklaim Facebook tidak pernah mereka lakukan. Mereka juga mendiskusikan skema lain untuk mengubah data pengguna menjadi pendapatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Facebook menyatakan keberatan mereka atas diungkapnya dokumen tersebut ke publik. Dokumen ini diberikan kepada pengacara dari pengembang aplikasi Six4Three saat gugatan disidangkan.
Surel-surel ini membuktikan Facebook sempat berusaha mamasok para pengembangnya yang haus data untuk keuntungan perusahaan itu. Zuckerberg sendiri sempat yakin kalau pengembang akan menyalahgunakan data pengguna yang dibagi perusahaannya.
Dalam surel lainnya Zuckerberg juga sadar sejumlah pengembang menyalahgunakan data tersebut. Tapi saat itu ia tak memikirkan bagaimana hal ini akan merugikan pengguna, tapi fokus apakah hal ini akan mengganggu perusahaan atau tidak.
Pada email lain yang diteruskan ke segelintir eksekutif pada 7 Oktober 2012, Zuckerberg menyampaikan ide model bisnis lain yang masih berkisar pada penerapan biaya berlangganan bagi pengembang yang ingin mengakses data pengguna, seperti ditulis The Guardian.
Facebook mengelak
Facebook dalam sebuah tulisan di blog membela diri kalau dokumen yang bocor itu bias. Dokumen itu hanya menceritakan satu sisi saja dan menghilangkan konteks penting. "Tapi faktanya jelas: kami tidak pernah menjual data orang."
Dalam gugatannya, pengembang AS yang kini sudah tidak eksis, Six4Three mengeluhkan adanya perubahan yang dilakukan Facebook pada 2014 dan 2015.
Menanggapi bocornya dokumen ini, Zuckerberg menulis dalam blog yang diposkan Rabu (5/12) menyebut bahwa perubahan kebijakan tersebut dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan oleh aplikasi pihak ketiga.
"Ini adalah perubahan yang dibutuhkan untuk mencegah terjadinya situasi serupa dengan Cambridge Analytica," tulisnya. "Jika saja kami melakukannya setahun lebih cepat, kami bisa mencegah situasi ini sepenuhnya." (eks/eks)