Pichai memberikan penjelasan tersebut saat menerima pertanyaan dari perwakilan Komite Peradilan Zoe Lofgren (D-CA) yang menyelidiki kemungkinan perusahaan memanipulasi hasil pencarian gambar. Pria keturunan India ini menjelaskan bahwa Google hanya mencocokkan salinan dari miliaran laman situs web di indeks mereka dengan kata kunci yang diketikkan pengguna.
"Kami mengambil kata kunci dan mencocokkannya dengan halaman mereka dan memberi peringkat berdasarkan lebih dari 200 sinyal yang termasuk relevansi, kesegaran, popularitas, bagaimana orang lain menggunakannya," jelas Pichai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi itu bukan ulah seorang pria yang duduk di belakang tirai untuk memilihkan apa yang akan ditunjukkan pada pengguna?," lanjut Lofgren seperti dilansir The Verge.
Sebelumnya di awal 2018, pengguna internet menemukan kumpulan foto Trump di bagian teratas Google Images apabila mengetikkan kata 'idiot' di mesin pencari Google. Saat itu Google mengelak bahwa hal itu dimanipulasi oleh perusahaan.
Kejadian tak menyenangkan itu terjadi karena ada manipulasi kampanye oleh para aktivis daring yang tidak menyukai kebijakan Trump. Manipulasi algortime yangd ilakukan oleh pengguna situs Reddit yang memasukkan foto Trump ke dalam tautan kata kunci 'idiot'. Pengguna Reddit kemudian melakukan upvote unggahan foto Trump yang dikaitkan dengan kata idiot.
Di tahun 2009, kejadian serupa juga sempat menimpa mantan ibu negara Michelle Obama yang memunculkan karikatur wajahnya yang diedit agar mirip monyet. Atas masalah ini, Google mengunggah iklan yang menjelaskan cara kerja algoritme untuk memunculkan hasil pencarian.
"Mesin pencari merupakan cerminan dari konten dan informasi yang tersedia di Internet. Peringkat situs di hasil pencarian Google sangat bergantung pada algoritma komputer menggunakan ribuan faktor untuk menghitung relevansi halaman dengan permintaan yang diberikan," kata Google pada tahun 2009. (kst/evn)