Kota Kelahiran Yesus 'Lahirkan' Aplikasi Pengunjung Ziarah

AFP, CNN Indonesia | Jumat, 21/12/2018 09:02 WIB
Kota Kelahiran Yesus 'Lahirkan' Aplikasi Pengunjung Ziarah Ilustrasi. (Anadolu Agency/Issam Rimawi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tempat kelahiran Yesus, Bethlehem berharap lebih banyak wisatawan yang hadir berkunjung pada Natal tahun ini. Semakin banyaknya wisatawan dari tahun ke tahun, membuat kota ini akan 'melahirkan' sebuah aplikasi untuk menangani permasalahan kota.

Salah satunya adalah aplikasi reservasi melalui aplikasi untuk lokasi penziarah dan wisatawan yakni gereja yang diyakini tempat Yesus lahir. Aplikasi ini akan diperkenalkan awal tahun depan dan bertujuan untuk memastikan aliran reguler wisatawan di Gereja Kelahiran Yesus.

Pasalnya, pada jam sibuk, pengunjung bisa menunggu hingga berjam-jam untuk melihat gua bawah tanah di mana dipercayai Yesus dilahirkan di palungan. Namun, rincian aplikasi yang akan dibuat dalam bahasa Inggris tersebut masih dikerjakan.
Seorang imam mengatakan aplikasi tersebut itu hanya akan berlaku untuk kelompok-kelompok tur yang mengunjungi lokasi di Tepi Barat yang diduduki Israel.


Tetapi Kementerian Pariwisata Palestina mengatakan aplikasi akan disediakan untuk semua orang.

Meskipun ada kekhawatiran kunjungan bisa menjadi rumit, ketiga gereja yang berbagi kendali atas situs tersebut yakni Katolik, Ortodoks Yunani, dan Gereja Armenia mengatakan aplikasi seperti itu diperlukan.
"Ada kalanya bagi kita ada doa khusus, perayaan, atau massa, atau dengan semua sekte yang berdoa," kata Imam Ortodoks Issa Thaljieh di luar gereja.

"Jadi tentu saja ada tekanan besar. Dengan aplikasi ini, semua orang akan tahu jam berapa untuk masuk dan grup mana yang ada, sehingga akan menjadi lebih teratur."

Gereja pertama dibangun di situs tersebut pada abad keempat, meskipun itu diganti setelah kebakaran pada abad keenam. Mosaiknya baru-baru ini dipulihkan dalam proyek besar. Wakil Menteri Pariwisata Palestina Ali Abu Srour mengatakan aplikasi itu juga akan memberikan informasi tentang gereja.

"Kami akan hadapi permasalahan ini dengan solusi digital," katanya kepada kantornya di Bethlehem.

Barbora Salyova, seorang turis berusia 29 tahun yang mengunjungi Israel dan Yordania dari Slovakia, mengatakan bahwa aplikasi ini dapat berguna bagi para peziarah seperti dirinya.

"Ini adalah langkah yang pasti kami rencanakan," katanya.
Kementerian Pariwisata Palestina mencatat secara total sekitar 2,8 juta wisatawan telah mengunjungi wilayah Palestina tahun ini, naik dari 2,5 juta tahun lalu. Abu Srour mengatakan alasan utama adalah penurunan kekerasan di Yerusalem dan Tepi Barat tahun ini.

Kementerian telah menjangkau wisatawan baru di lokasi di seluruh dunia, katanya.

Israel juga menikmati rekor angka pariwisata dan banyak pengunjung melakukan perjalanan ke Bethlehem dan situs Tepi Barat lainnya dari Tel Aviv,Yerusalem dan tempat lain di negara Yahudi. (age/age)