Gunung Anak Krakatau, Si Kecil yang Indah nan Berbahaya

CNN Indonesia | Minggu, 23/12/2018 19:16 WIB
Gunung Anak Krakatau, Si Kecil yang Indah nan Berbahaya Letusan Gunung Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gunung Anak Krakatau menjadi sorotan ketika bencana tsunami terjadi di Selat Sunda pada Sabtu (22/12) malam. Kekhawatiran akan dampak dari letusan dahsyat 135 tahun silam kembali terngiang.

27 Agustus 1883 pukul menjadi saksi amukan gunung api laut itu. Tiga letusan amat dahsyat hingga suaranya terdengar sampai dekat Pulau Rodrigues, dekat Kepulauan Mauritius di Samudra Hindia yang terpisah jarak sekitar 4.500 kilometer.

Material letusannya melesat hingga kecepatan seribu kilometer per jam. Awan panas membumbung hingga mencapai ketinggian 20 kilometer ke langit.


Akibatnya Krakatau yang tadinya merupakan pulau hilang dan membentuk kawah. Hal itu juga memicu gelombang tsunami di Selat Sunda. Menurut catatan pemerintah Hindia Belanda saat itu 36.417 orang meninggal akibat bencana alam itu. Jasad korban berbulan-bulan mengapung di lautan. Hampir seluruh pulau hancur, atau sisa-sisanya terpental dan mendarat di sekitar Lampung dan Banten.


Bencana itu diabadikan oleh penulis Simon Winchester dalam buku 'The Day The World Explode'. Letusannya juga mengakibatkan perubahan iklim selama beberapa tahun.

Pada 1928, Anak Gunung Krakatau mulai muncul di tengah-tengah kawah akibat letusan sebelumnya. Aktivitas vulkaniknya bak pisau bermata dua, indah untuk disaksikan tetapi juga menyimpan bahaya besar.

Sebagai gunung api laut, Anak Krakatau tak kalah aktif dari orang tuanya. Frekuensi letusannya cukup sering dan berlangsung setiap hari. Abu vulkaniknya yang disemburkan bertahun-tahun akhirnya membentuk pulau baru.

Gunung itu pun menjadi salah satu obyek penelitian favorit para vulkanologi, dan juga para turis yang ingin melihat dari dekat gunung meletus.

"Rata-rata letusannya kecil kalau dilihat dari skala erupsi. Kadang-kadang juga letusannya mengandung lava," kata pakar gunung api Universitas Monash, Australia, Profesor Ray Cas, seperti dilansir AFP, Minggu (23/12).

Dari analisa sementara Cas, dia menduga tsunami di Selat Sunda dipicu oleh aktivitas vulkanik Akan Gunung Krakatau, walaupun kecil, yang menyebabkan longsor di bawah laut.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) menuturkan hingga kini korban tewas tsunami di Selat Sunda mencapai 168 orang.


Sementara itu, sedikitnya 745 orang luka akibat bencana tersebut dan 30 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

BNPB memperkirakan jumlah korban tewas dan luka, serta kerusakaan materiil akan terus bertambah menyusul belum semua daerah terdampak bencana didata oleh petugas darurat.

Tsunami menerjang Selat Sunda sekitar Sabtu (22/12) malam pukul 21.27 WIB. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memaparkan fenomena Tsunami Selat Sunda kemarin termasuk langka dan hingga kini penyebabnya belum bisa dipastikan. (ayp)