KALEIDOSKOP 2018

5 Aplikasi Disuntik Mati di 2018

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 26/12/2018 09:07 WIB
5 Aplikasi Disuntik Mati di 2018 Ilustrasi media sosial. (Foto: Istockphoto/Prykhodov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa perusahaan memutuskan untuk mematikan layanan dan aplikasi di tahun 2018. Beberapa aplikasi dan layanan bukan hanya sudah tak memiliki 'massa', namun juga perlu berganti nama dan bisnis model.

Berdasarkan catatan CNNIndonesia.com, berikut daftar aplikasi dan layanan yang harus 'disuntik mati' sepanjang tahun 2018.

Path
Path merupakan aplikasi yang sempat populer di seluruh dunia, termasuk Indonesia sekitar empat hingga lima tahun silam. Sepi pengguna membuat induk perusahaan memutuskan untuk menutup resmi Path pada 18 September silam.


Semasa jaya, Path mengumpulkan penghasilan dengan mengandalkan sistem berlangganan hingga stiker langganan berbayar. Kendati demikian, banyak pengguna yang justru memilih menggunakan layanan secara gratis dan tak tertarik untuk berlangganan.

EMB - 5 Aplikasi Disuntik Mati di 2018Foto: Istockphoto/Farknot_Architect

Path sempat menjadi perbincangan dan populer dengan fiturnya seperti berbagi lokasi, momen, status, musin yang didengarkan, hingga film yang ditonton dan buku yang dbaca. Untuk menjaga loyalitas pengguna, Path sempat membuat fitur 'coverstory' agar isa bersaing dengan Snapchat dan IG Story milik Instagram.

Namun sejak 2016 lalu, Path terus ditinggalkan dan banyak pengguna yang beralih menggunakan Instagram.


Google+
Google membuat keputusan besar pada Desember dengan mengumumkan untuk menutup aplikasi Google+. Sejauh ini, Google+ dalam status mati suri dan berencana akan ditutup pada April 2019 mendatang.

Layanan ini ditutup menyusul ditemukannya cacat berupa bug yang mengancam data 52,5 juta penggunanya. Bug tersebut dikabarkan bisa memaparkan informasi profil mulai dari nama, pekerjaan, usia, dan alamat email.

Perusahaan yang berbasis di Mountain View ini memutuskan untuk mempercepat penutupan Google+ setelah bug diketahui mengekspos data pribadi 500 ribu akun.

Di awal kehadirannya, Google+ digadang-gadang muncul untuk menghalau popularitas Facebook. Namun seiring berjalannya waktu, Google tak memberikan perhatian serius pada layanan miliknya tersebut.

Google Hangouts
Selain Google+, Google juga memutuskan untuk mengganti Hangouts dengan layanan sejeni bernama Hangouts Chat dan Hangouts Meet pada 2019 mendatang.

Perusahaan mengatakan akan memigrasikan pengguna dari Hangouts klasik ke Chat dan Meet yang saat ini baru bisa diakses oleh pengguna Google Suite (layanan berbayar Google). Rencananya, Meet dan Chat akan dibuat gratis bagi seluruh penggunanya, termasuk pengguna Hangouts klasik.

Google Allo
Selain Google+ dan Hangouts, Google Allo dikabarkan juga akan turut ditutup oleh Google. Bahkan kabarnya Google juga sudah mengentikan investasi untuk layanan pesan singkat Allo.

Kabar yang beredar menyebut Google sebenarnya sudah merencanakan pengumuman penutupan aplikasi ini. Namun pengumuman ditunda karena muncul laporan penutupan Hangouts.

Sejauh ini, tim Allo dipindahkan ke Android Messages. Dalam beberapa bulan terakhir, tim mengubah fungsi dan fitur Allo menjadi aplikasi baru yang kabarnya menjadi cikal bakal aplikasi pesan RCS Google 'Chat'. Namun Google belum memberikan tanggapan apakah rencana pengembangan benar atau sekedar rumor.

Tiga aplikasi Facebook
Pascaditempa skandal pencurian 87 juta data pengguna, Facebook mengumukan menutup aplikasi Hello, Moves dan tbh pada Juli 2018. Ketiga aplikasi tersebut diakuisisi dan dibiarkan 'hidup' oleh Facebook sejak empat tahun seilam.

Hello merupakan aplikasi pemantau fitness yang diakuisisi pada 2014. Sementara Hello merupakan aplikasi home dialler Android yang dibeli pada 2015. Facebook juga mencaplok jejaring sosial untuk anak muda, tbh pada Oktober 2017.

Facebook beralasan ketiga aplikasi harus ditutup karena sepi pengguna. Bahkan Moves dan Hello dikabarkan tak berkembang sejak diakuisisi. (kst/evn)