Alasan Krakatau Terus Tumbuh

CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 07:42 WIB
Alasan Krakatau Terus Tumbuh Gunung Anak Krakatau (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anak Krakatau muncul pada 1927, 40 tahun setelah meletusnya gunung Krakatau pada 1883. Kemunculan Anak Krakatau ini terjadi lantaran kawasan kaldera gunung Krakatau yang meletus pada 1883 masih terus aktif mengeluarkan magma.

Lava yang keluar dari dalam kantong magma itu membeku dan terus tertimbun sehingga diistilahkan terus tumbuh. Anak Krakatau bertambah tingginya gunung ini akibat material yang keluar dari perut gunung. Ini adalah tipe pertumbuhan gunung dengan cara ekstrusi yaitu menumpuknya letusan material yang menyebabkan gunung berapi tumbuh di luar. Gunung berapi dibangun dengan cara ini terutama dari dua bahan: lava dan abu.

Cara pertumbuhan gunung lainnya adalah dengan intrusi. Dengan cara ini, magma bergerak naik ke gunung berapi tanpa meletus. Sehingga, gunung bertumbuh dari dalam, seperti dikutip dari laman Universitas Oregon State, Amerika Serikat. 


Gunung ini tumbuh rata-rata 8,9 meter per tahun atau 70 cm per bulan. Menurut catatan Volcano Discovery, tinggi Krakatau saat ini sudah mencapai 813 meter di atas permukaan laut (m dpl). Padahal pada 1935 tinggi gunung ini hanya 63 meter saja.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho butuh 500 tahun untuk gunung ini menyamai tinggi ibunya yang mencapai 2.000 m dpl.

Tumbuh cepat

Anak Krakatau muncul dari kaldera Gunung Krakatau yang berada di bawah permukaan laut. Puncak Gunung Anak Krakatau mulai terlihat di permukaan air pertama kali pada 26 Januari 1928, namun dicatat lahir pada 30 Januari 1930 oleh Badan Geologi ESDM 2011. Menurut peneliti geodinamika Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Irwan Meilano, gunung ini bertumbuh amat cepat.

"Pertumbuhan amat cepat. Kondisi amat aktif hanya bisa terjadi jika sistem ekstensinya (regangannya) kuat," kata Irwan kepada Kompas.com pada 2013 silam.

Peregangan ini terjadi karena pergerakan lempeng Indo-Australia yang menjauh dari lempeng benua Eurasia. Pergerakan ini menciptakan graben aktif di Selat Sunda dan membuka jalur keluar magma yang menjadi dapur dari Gunung Krakatau.

Rekahan ini juga memengaruhi deretan aktivitas vulkanik gunung-gunung yang terbentang di utara-selatan Selat Sunda, yaitu Sukadana, Rajabasa, Sabesi, Sebuku, dan Krakatau.

Dari deretan tersebut Krakatau yang paling cepat tumbuh karena adanya beberapa kantong magma di bawah yang siap memasok magma ke permukaan. Menurut dia kantong itu berada di lapisan dangkal (kurang dari 7 km) dan lapisan tengah (7-22 km).


Kerap meletus

Anak Krakatau tercatat sudah meletus sebanyak 46 kali setelah ledakan besar 1883. Sejak Juni 2012, gunung ini tercatat mengakibatkan gempa vulkanik 1075 kali, pada Juli turun menjadi 807 kali namun meningkat pada Agustus menjadi 2.335 kali pada tahun itu saja. Sejak lahir, Anak Krakatau telah mendapatkan banyak perhatian dunia sebagai warisan dari Krakatau.

Selain Krakatau, gunung yang juga tengah tumbuh di Indonesia adalah Anak Ranakah (2247,5 m dpl) yang berada di antara gunung Mandosawu dan Ranakah di kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Padahal sebelumnya kompleks gunung api ini diketahui sudah tidak aktif. Kemunculannya membuat gunung api ini menjadi yang termuda di Indonesia, seperti dicatat jurnal LIPI. (kst/eks)