Lava yang keluar dari dalam kantong magma itu membeku dan terus tertimbun sehingga diistilahkan terus tumbuh. Anak Krakatau bertambah tingginya gunung ini akibat material yang keluar dari perut gunung. Ini adalah tipe pertumbuhan gunung dengan cara ekstrusi yaitu menumpuknya letusan material yang menyebabkan gunung berapi tumbuh di luar. Gunung berapi dibangun dengan cara ini terutama dari dua bahan: lava dan abu.
Cara pertumbuhan gunung lainnya adalah dengan intrusi. Dengan cara ini, magma bergerak naik ke gunung berapi tanpa meletus. Sehingga, gunung bertumbuh dari dalam, seperti dikutip dari laman Universitas Oregon State, Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anak Krakatau muncul dari kaldera Gunung Krakatau yang berada di bawah permukaan laut. Puncak Gunung Anak Krakatau mulai terlihat di permukaan air pertama kali pada 26 Januari 1928, namun dicatat lahir pada 30 Januari 1930 oleh Badan Geologi ESDM 2011. Menurut peneliti geodinamika Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Irwan Meilano, gunung ini bertumbuh amat cepat.
"Pertumbuhan amat cepat. Kondisi amat aktif hanya bisa terjadi jika sistem ekstensinya (regangannya) kuat," kata Irwan kepada Kompas.com pada 2013 silam.
Rekahan ini juga memengaruhi deretan aktivitas vulkanik gunung-gunung yang terbentang di utara-selatan Selat Sunda, yaitu Sukadana, Rajabasa, Sabesi, Sebuku, dan Krakatau.
Dari deretan tersebut Krakatau yang paling cepat tumbuh karena adanya beberapa kantong magma di bawah yang siap memasok magma ke permukaan. Menurut dia kantong itu berada di lapisan dangkal (kurang dari 7 km) dan lapisan tengah (7-22 km).
Kerap meletus
Anak Krakatau tercatat sudah meletus sebanyak 46 kali setelah ledakan besar 1883. Sejak Juni 2012, gunung ini tercatat mengakibatkan gempa vulkanik 1075 kali, pada Juli turun menjadi 807 kali namun meningkat pada Agustus menjadi 2.335 kali pada tahun itu saja. Sejak lahir, Anak Krakatau telah mendapatkan banyak perhatian dunia sebagai warisan dari Krakatau.
Selain Krakatau, gunung yang juga tengah tumbuh di Indonesia adalah Anak Ranakah (2247,5 m dpl) yang berada di antara gunung Mandosawu dan Ranakah di kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Padahal sebelumnya kompleks gunung api ini diketahui sudah tidak aktif. Kemunculannya membuat gunung api ini menjadi yang termuda di Indonesia, seperti dicatat jurnal LIPI. (kst/eks)